Langsung ke konten utama

Begini Rasanya Gabung Dengan Komunitas Seni



Ini adalah pertama kali saya bergabung dengan komunitas seni. Semasa SMA, saya pernah tampil untuk seni membaca cerpen, membaca puisi, sesekali mencoba monolog, pernah pula saya menari tarian daerah di sebuah kegiatan. Singkat kata, saya telah menyukai dunia seni sejak lama. Saya selalu riang melihat pertunjukan seni tari daerah, seni teater, membaca puisi, karya lukisan, dan banyak lagi. Seni bahkan seperti menjadi bagian dalam diri saya. 

Ketika masuk perguruan tinggi, saya banting stir mengurangi dunia pertunjukan. Tak lagi saya membaca puisi, monolog, membaca cerpen, yang ada saya suka dunia ilmiah. Saya meleburkan diri dalam dunia menulis ilmiah, masuk gerbang penelitian, menggandrungi karya riset terbaru, membaca jurnal inovasi kreatif, semua dunia saya mengarah pada dunia saintifik, atau saya arahkan untuk memutar haluan. Tapi saya tetap menyukai seni pertunjukan, meski tak lagi punya kesempatan untuk tampil dan tidak lagi memiliki prioritas baik untuk itu. 

Kemudian rekan rekan praktisi seni berbagai bidang mengundang saya untuk bergabung dan membuat sebuah komunitas seni. Saya kira itu menarik, membuat organisasi ilmiah mungkin pernah saya lakukan tapi komunitas seni, mengingatkan saya akan masa lalu. Masa indah yang menyenangkan. Maka jadilah saya bergabung. 

Malam ini komunitas tersebut di launching, mengundang berbagai komunitas seni di Bengkulu. Saya belum pernah menyaksikan mereka, tapi jauh sebelum itu saya sangat menantikan. Dan sampai saya menulis artikel ini, di hadapan saya tengah tampil secara bergantian pertunjukan seni dari berbagai komunitas seni, dan rasanya....HEBATTT!!!!!!!! 

Saya merasakan sensasi keriangan yang menyenangkan, nuansa kreatif yang khas, kebebasan berkarya yang menggoda dan saya tidak tahu bagaimana cara untuk membahasakannya. Ah begini rasanya menyaksikan seni pertunjukan dari komunitas seni di Bengkulu, saya baru sadar bahwa mereka semua hebat, keren, kreatif, dan saya banggakan. Intuisi seni saya bangkit kembali, minat tinggi pada seni terlahir dengan cara baru. 

Malam ini berlalu dengan menakjubkan, segar, berkesan. Malam launching komunitas ambin di resto ayam lepas pantai panjang. Saya tidak akan melupakan kesan cool ini, salam penggiat seni bengkulu. Saya akan terus menantikan pertunjukan seperti ini, selalu. 

14 Mei 2016, 22.12







Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…