Langsung ke konten utama

Izinkan Saya Terus Bicara


Entah sejak kapan, saya memiliki definisi kepemimpinan dengan cara lain. Bagi saya, penghormatan saya kepada seorang pemimpin bukan seperti saya akan hadir dengan menepuk pundak atau tersenyum ramah. Makanya saya selalu tidak suka, bila seorang sahabat baik saya menjadi pemimpin dan saya dalam posisi terpimpin. Karena sekali saya menganggapnya pemimpin, saya akan terus menyalak dengan taring yang melukai. Saya menjadi sangat sarkastis soal itu. 

Kepada seluruh sahabat baik, dimana kita bersama dalam hubungan pemimpin dan saya adalah bagian yang dipimpin, mohon maaf bila saya terus menyalak. Saya terus berharap bahwa saya tidak pernah dalam satu sistem kepemimpinan dengan orang yang baik dengan saya, karena saya selalu saja melakukan hal sama, yaitu melukai hati-hati pemimpin saya. 

Saya membuat setandar kepemimpinan dengan cara saya, saya beranggapan seorang yang saya akui sebagai  pemimpin adalah  orang dengan kapasitas dan potensi kepemimpinan tinggi. Lalu barangkali karena saya juga tipe orang yang sarkastis, saya sering bergerak dengan kemauan saya, kritik, dan paling parah adalah mempermainkan emosi. Bagi saya seorang pemimpin memang harus demikian, kuat dan kebal termasuk bila bertemu dengan spesies seperti saya. Namun di waktu lain, bersama waktu yang bergulir dan menggerakkan perasaan, saya kadang berpikir, barangkali saya terlalu kasar. 

Oleh karenanya kepada semua orang yang pernah menjadi pemimpin saya, kepada sahabat saya yang harus kuat berhadapan dengan kritik saya, maafkan atas semua hal tersebut. Secara sederhana saya memang memaksakan kepemimpinan dengan standar saya, tapi saya lupa bahwa tidak semua orang siap untuk itu, apalagi kepada yang sebelum itu adalah sahabat karib saya, dimana saya sering bertransformasi menjadi sangat sarkastis. Maafkan atas salah saya, dan tolong terus ingatkan saya. Ingatkan, tapi bukan membungkam. Ada yang membuat saya meyakini secara kuat bahwa fungsi keanggotaan bukan hanya bergerak di bawah tanah, tapi fungsi kontrol. Ajarkan saya untuk lebih santun berbicara, atau ajarkan saya untuk bersabar dengan baik lagi, tapi jangan minta saya untuk diam tak berbicara. 

Postingan populer dari blog ini

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…