Langsung ke konten utama

Kepatuhan Kepemimpinan Tidak Berarti Tunduk


Saya kerap menemukan contoh dimana pegawai atau bawahan sering terposisikan sebagai pekerja. Konteks ini berlaku di dunia kerja dengan lembaga yang terstruktur secara formal. Berbeda dengan bentuk kepemimpinan dalam sebuah organisasi non profit, kepemimpinan dalam lembaga profit atau lembaga usaha terikat dengan perhitungan upah kerja. Sementara organisasi yang dibangun tanpa perhitungan upah kerja terkait pada tujuan yang dikejar secara bersama. 

Karena bentuknya berbeda, maka keluaran kepemimpinan dan cara mengelola lembaga seorang pemimpinnya pun berbeda. Lembaga formal usaha sering lebih kaku, sementara lembaga non profit lebih santai dengan tingkat penghormatan dan kerja sama yang tinggi. 

Saya menemukan contoh perilaku yang menarik, dalam lembaga formal, pegawai adalah orang yang harus bekerja untuk tujuan tertentu, dan sering tidak merasa berhak untuk mencampuri soal target usaha. Mereka hanya bekerja dengan diam, mematuhi perintah dengan baik, dan harus berpikir ulang untuk sebuah kritikan. Paling banyak segala bentuk keluhan dan kritikan itu hanya akan disampaikan dalam kegiatan santai di arung kopi, atau diskusi makan siang. Kondisi yang rentang dengan provokasi, dimana secara psikologis, mereka adalah budak yang terikat pada aturan. Tidak ada kebebasan pandang sebagaimana sering saya temukan di lembaga non profit. Karena pandangan pemimpin akan memberikan pengaruh terhadap karier dan penghasilan. Kondisi ini sangat subjektif dengan standar suka dan tidak suka dari seorang pemimpin lembaga profit.

Untuk tingkat kepercayaan kepemimpinan, saya menemukan bahwa kepercayaan kepemimpinan organisasi non profit cenderung lebih tinggi dari lembaga profit. Mungkin karena pada lembaga bebas, seorang pemimpin bebas berekspresi tanpa ada tekanan target dan ikut campur urusan ekonomi. Hanya saja, selalu ada kondisi dimana kita harus, pada akhirnya, bergabung dengan lembaga profit. Ada kewajiban mutlak bagi seorang lelaki untuk menjadi tulang punggung perekonomian keluarga, dan itu tidak lagi bicara soal hidup sebentar satu manusia. 

Akhirnya, saya  merasakan kondisi tersebut. Yakni masuk dalam sebuah sistem organisasi yang di dalamnya terkelola dengan feedback berupa penghasilan. Saya lalu belajar bahwa kondisi psikologis pemimpin benar-benar dapat mempengaruhi kinerja . Subjektifitas pemimpin adalah pengaruh yang mendominasi proses kerja. Maka pegawai akhirnya harus selalu tunduk dan patuh, karena standardisasi suka dan tidak suka dari pemimpin adalah indikator mutlak penilaian kerja yang akhirnya bermuara pada penghasilan. 

Terus terang saya membenci sistem yang demikian, bagi saya organisasi tetap saja organisasi. Interaksi kepemimpinan bukan berasal dari satu arah pandangan dominan, tapi dari dua sisi. Yaitu pemimpin sebagai pengarah, dan yang terpimpin sebagai kontrol. Saya mencoba tampil dengan objektivitas dan profesionalitas yang berdiri sejajar. Artinya, saya akan bekerja dengan baik, mengupayakan untuk hasil kerja terbaik, namun dalam satu sisi, saya tidak bungkam bila saya sadari sesuatu yang berpotensi mengancam lembaga. 

Saya mengupayakan untuk tampil sebagai pekerja yang baik, tapi saya tidak ragu untuk menyampaikan secara terbuka bila saya merasa ada sesuatu yang salah. Boleh jadi sudut pandang saya yang salah, tapi dengan menyampaikan secara terbuka, saya juga mempelajari proses klarifikasi sehingga tidak muncul prasangka. Keberanian dan kebiasaan menyampaikan segala bentuk kritik dan masukan, walau itu sangat menyakitkan, adalah tindakan pembangun hubungan yang objektif dan profesional.

Saya mengharapkan seorang pemimpin yang benar-benar menjadi pemimpi dan teladan. Saya akan menghormati status kepemimpinan itu. Saya akan patuh pada perintah, tapi tidak berarti bahwa saya akan tunduk dan diam atas semua perintah. Ada wilayah rasional yang saya pertahankan, sehingga kepercayaan saya kepada pemimpin adalah semata objektivitas pada perbaikan kerja lembaga. 

Bila saya hormat pada sebuah kepemimpinan, saya tidak akan diam dan tunduk dengan segala hal. Tapi bentuk/penghormatan saya adalah dengan terus mengingatkan sebagai kontrol, apabila saya melihat ada hal yang berjalan kurang baik. Ketidakseganan tersebut saya harapkan akan menjadi pemicu perbaikan pengelolaan lembaga. Oleh karenanya, saya selalu memilih. Ya, saya selalu memilih siapa saya yang harus saya dengarkan, patuhi, dan ikuti. Saya berharap untuk terus bebas dalam menentukan itu, dan semoga hal ini adalah bagian dari pemikiran yang benar soal hubungan kepemimpinan dalam organisasi. 

Saya yakin, pemimpin yang sebenarnya adalah pemimpin yang terbuka dengan kritik, dan mendengar kritik secara objektif. Pun sebaliknya, ia juga tidak segan mengkritik saya atas kerja yang tidak profesional. 

Saya patuh, tapi tidak berarti tunduk. Kepatuhan itu pilihan, ketundukan itu milik budak yang sudah tidak punya pilihan lagi. Saya memilih untuk punya pilihan itu, menjadi patuh kepada pemimpin yang saya hormati dan terbuka dengan kritik. Saya memilih siapa pemimpin saya. 

Postingan populer dari blog ini

Ilusi itu bernama 'Wisuda'

Saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang baru saja meraih gelar Sarjana. Kalian berhasil menaklukkan dan memenangkan diri sendiri. Kalian berhasil melalui proses yang panjang untuk hari besar itu. Percaya saja, berfoto mengenakan toga itu sungguh sangat menyenangkan.  Selamat (jalan) ya.
Tapi itu tidak akan lama. Saya ingat pernah berbicara di depan lebih dari 850 mahasiswa baru. Saya bertanya kepada mereka semua (mungkin mereka saat ini juga telah wisuda), pertanyaan yang cukup di jawab dengan mengangkat tangan. 'Silahkan angkat tangan kalian yang selama kuliah ingin mendapat IPK 4, menjadi pengusaha mahasiswa yang berhasil, menjadi delegasi pertukaran mahasiswa, menjadi wakil universitas dalam berbagai lomba, menerbitkan buku pertama dan lain-lain'. Tidak bisa terhitung secara tepat, tapi saya ingat 95% dari mereka angkat tangan. Menarik sekali. 
Lalu saya bertanya kembali kepada mereka, setiap tahun Universitas Bengkulu meluluskan lebih dari 3.000 mahasiswanya. Apakah …

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Kopdar Blogger Bengkulu 'Pertama'

Bukan Kopdarnya yang pertama, tetapi saya yang baru pertama mengikuti Kopdar ini. Saya tertawa-tawa saja, ini pertemuan ke 9,artinya sudah 9 bulan berdiri, dan saya baru hadir di kumpulnya blogger Bengkulu. Menyenangkan.

Saya tertawa-tawa sebab saya memandang sebuah rumah yang saya tinggakan. Dalam versi saya, artinya bisa muncul banyak versi, komunitas ini lahir bersamaan dengan datangnya kawan-kawan Kompasiana yang mengumpulkan Blogger Bengkulu. Tentu sebelumnya sudah ada keinginan untuk berkumpul para blogger di Bengkulu, lalu saat itu disepakati untuk di bentuk komunitas Blogger Bengkulu.

Pada periode ini, saya yang diminta mendesain logo komunitas ini, maka jadilah sebuah logo sederhana yang saya tak menyangkan tetap digunakan hingga saat ini. Ah, saya berharap bisa melakukan sedikit perbaikan desain logo itu, tapi sudah terlanjur dipakai bersama-sama.

Hari ini saya mengikuti kegiatan Kopdar bersama. Saya menyempatkan dengan sungguh-sungguh setelah sering gagal menghadiri undang…