Langsung ke konten utama

Masih Lagu yang Sama


Sekitar tahun 2009, entah bagaimana caranya saya sampai pada sebuah acara bertajuk Silaturahmi dan Halal Bihalal di akhir agustus. Tempatnya di Benteng Malborough. Sebagai anak baru, saya masih terus mempertanyakan bagaimana bisa saya berada di tempat dan acara itu. Saya tidak secara khusus dikenal dengan orang orang yang ada di tempat tersebut. Kalaupun saya yang mengenal orang di sana, saya pastikan bahwa mereka tidak mengenal saya. 

Bersama seorang sahabat saya, kami mengikuti acara sepanjang 3 jam tersebut. Duduk di belakang dengan malu malu, tidak sama dengan lainnya dimana datang bersambut akrab, saling sapa, sesekali tawa canda. Meski serasa begitu asing, tapi suasananya benar-benar hangat dan akrab. Sederhana, namun begitu hikmat. Akhirnya sepanjang acara tersebut kami hanya duduk manis, sesekali berbisik-bisik di antara kami saja. 

Bagian paling baik dari agenda tersebut, yang tidak dapat saya lupakan adalah saat semua berdiri dari kursi mereka. Berdiri dengan rapi. Alunan dentum sound system memantul kembali dari dinding tua benteng peninggalan inggris, semangat yang terpadu, hati yang merindu, sebuah rasa yang berbeda. 
Hingga pagi ini, di pagi ke sekian setelah saat itu. Saya duduk di tengah ramai. Hanya rasanya tidak sama dengan semula. Saya dapat menyapa lebih banyak orang, lebih banyak bercanda tawa. Saling mengenal akrab, meski sebagian baru sekali sua, atau ajang reuni dengan sahabat yang lama tidak jumpa. Rupanya usianya telah sampai 18 tahun kini. Dan saya berdiri di antara itu. 

Masih berdentum dengan suara yang sama hikmatnya, sama menggeloranya. Disapa angin pantai yang hangat, kami bergerak bersama, tawa lepas, sapaan akrab, keceriaan anak-anak kecil berlari lari, suasana yang mengingatkan pada kali pertama saya mendengarnya. 
Berdentum beramai, dengan lirik yang masih sama 

....kita berhimpun dalam barisan, lantangkan suara hati nurani, lahirkan pemimpin adil sejati, yang dicinta rakyat dan negeri ini....

Berkhidmat untuk rakyat.
Bengkulu, 01 Mei 2016  

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…