Langsung ke konten utama

Merefleksi Proses


Apa yang paling menyedihkan bagi seorang guru bila melihat anak didiknya yang telah berjuang dengan sangat baik, namun akhirnya belum berhasil. Kesedihan itu tidak sama dengan jika kegagalan itu adalah milik kita saja atau hanya kegagalan kita secara individu. Ketika kita mengajak, mendampingi, lalu terus memacu sebuah kerja, membersamai sepanjang proses berkompetisi, bersama sama menunggu hasil usaha, hingga kemudian hasil tidak sama dengan ekspektasi, di sana saya tahu ada kewajiban lain seorang pelatih dan pembina, yaitu menjadi kakak yang akan merangkul adiknya ketika diliput duka dari kegagalan. 

Pasti ada di sebagian hati kecil mereka, anak-anak tersebut, yang akan mengutuki proses. Menyalahkan karena telah menggunakan sebagian besar waktu, bahkan materi, dan ada juga yang mungkin telah membatalkan agenda lain hanya untuk kompetisi tersebut. Rasa sesal tersebut akan menyinggung rasionalitas dan ego, hingga mungkin akan membuat mereka menyalahkan lingkungannya. 

Itu sah saja, boleh, bagi seorang remaja di sekolah lanjutan atas, kondisi mental yang mengharapkan pengertian, akan membuat mereka sampai pada perasaan ingin dimengerti dan benar soal kegagalan yang terjadi. Bagi kita mungkin hanya akan berkata bahwa kegagalan adalah hal biasa, atau mengatakan bahwa kegagalan adalah batu lompatan menuju berhasil. Tapi lagi-lagi, meski secara lisan begitu puitis, kesakitan hati, kegelisahan, dan kemarahan akibat kekalahan, juga tidak bisa dielakkan. Kita harus memberikan porsi manusiawi tersebut dengan bijak. Agar tidak meledak sewayah-wayah, atau paling tidak agar semangat juga itu tetap terasah. 

Dalam beberapa hal, saya juga sering dilematik bila mengingat tidak optimal pembinaan. Meski saya puas bahwa anak didik saya telah menyelesaikan tantangan berkompetisi dengan kemungkinan berhasil dan gagal seimbang, tapi selalu ada perasaan bersalah. Saya pikir itu ajar jika kita merasa bahwa kegagalan itu adalah bagian dari gagalnya proses penyiapan dan pembinaan kita. Semakin dilematik ketika secara pribadi sebagai seorang pengajar di lembaga sekolah formal, ada kewajiban lain yang mesti saya lakukan, yaitu mengajar di kelas. Aktivitas menyampaikan, menilai, merefleksi tersebut rupanya menyita cukup banyak energi dan pemikiran. Itu juga yang sering membuta saya lupa untuk menyiapkan dengan baik murid-murid saya dalam kompetisi. 

Semuanya telah berlalu. Seperti sore ini dimana kami melihat pengumuman LKIR LIPI dan dari 20 judul penelitian yang kami ajukan tidak ada satu pun yang lulus, saya hanya sanggup merasakan merasalah karena tidak melakukan penyiapan secara optimal. Meski faktor daya saing dan pengalaman juga penting, mengingat kebanyakan peserta yang lolos adalah dari sekolah yang sama dengan tahun tahun tahun sebelumnya, tetap saja membuat saya sulit untuk membayangkan upaya hebat yang telah murid saya lakukan. Meski saya bisa menghibur hati mereka, bahwa memang bukan hanya kami yang gagal, tapi lebih dari 3000 peserta lain juga gagal, namun bayangan kemenangan yang pupus itu, tetap saja membuat saya sedih. 

Akhirnya saya hanya terus dan lagi-lagi menyampaikan kata bijak penghibur. Bahwa mereka telah berusaha dengan sangat baik. Bahwa mereka telah menembus kapasitas keharusan umum menuju ke tingkat lebih tinggi dari pelajar lain. Bahwa apa yang telah mereka lakukan saat ini, tidak mungkin tidak bernilai untuk masa depan, dan bahwa kemenangan paling indah adalah kemenangan yang diraih setelah lebih banyak kegagalan, membuat saya sedikit lega. Ya, mungkin saya juga jadi lupa cara menghormati proses kerja. Saya lupa tentang aspek penting dari kompetisi. Bahwa keindahan perjuangan adalah seberapa proses yang dilalui. Itu yang akan menjadi sejarah penting. Kemenangan? Ya itu penting, tapi mungkin saya harus mengingat kembali definisi kemenangan. Maafkan saya bila saya terlalu fokus untuk menang, hingga memaksa dengan sangat keras. Semoga ini menjadi pelajaran yang baik untuk masa depan kita semua. Hayuk kita temui dan hargai proses kerja kita, bertepuk tangan untuk diri kita, dan memenuhi hati kita dengan kebahagiaan sebuah proses.

Postingan populer dari blog ini

Ilusi itu bernama 'Wisuda'

Saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang baru saja meraih gelar Sarjana. Kalian berhasil menaklukkan dan memenangkan diri sendiri. Kalian berhasil melalui proses yang panjang untuk hari besar itu. Percaya saja, berfoto mengenakan toga itu sungguh sangat menyenangkan.  Selamat (jalan) ya.
Tapi itu tidak akan lama. Saya ingat pernah berbicara di depan lebih dari 850 mahasiswa baru. Saya bertanya kepada mereka semua (mungkin mereka saat ini juga telah wisuda), pertanyaan yang cukup di jawab dengan mengangkat tangan. 'Silahkan angkat tangan kalian yang selama kuliah ingin mendapat IPK 4, menjadi pengusaha mahasiswa yang berhasil, menjadi delegasi pertukaran mahasiswa, menjadi wakil universitas dalam berbagai lomba, menerbitkan buku pertama dan lain-lain'. Tidak bisa terhitung secara tepat, tapi saya ingat 95% dari mereka angkat tangan. Menarik sekali. 
Lalu saya bertanya kembali kepada mereka, setiap tahun Universitas Bengkulu meluluskan lebih dari 3.000 mahasiswanya. Apakah …

Menelaah Kebijaksanaan Hidup Lewat Tradisi dan Tari #5

Judul  'Tari Bubu : Tari Kreasi Baru dan Lestari Budaya Kreatif Bengkulu'

1.Tweepz terimakasih karena sudah stay tune di kultwit sy, khususnya yang sudah di chrip
2.Mulai dari Tari Kejei, Tari Andun, hingga Tari Ganau yang syarat akan keelokan pesan budi
3.Hari ini kita akan bicara soal Tari Bubu
4.Judulnya 'Tari Bubu : Tari Kreasi Baru dan Lestari Budaya Kreatif Bengkulu'
5.Ya, Tari Bubu adalah tari kreasi baru yang mengangkat semangat
6.Idenya dari kebiasaan masyarakat dalam menangkap ikan di sungai menggunakan bubu
7.Bubu adalah alat penangkap ikan yang dibuat dari bambu dan sifatnya pasif
8.Bubu ini jebakan yang sering di sebut 'traps' atau 'guiding barriers'
9.Alat ini berbentuk kurungan yang di desain untuk ikan dapat masuk namun tidak bisa keluar
10.Alat ini banyak ditemukan di seantero Indonesia dan kerap dipakai masyarakat
11.Tari bubu dimainkan dengan jumlah genap, penarinya mengenakan baju kurung bewarna cerah
12.Warna pakaian adat Bengkulu m…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…