Langsung ke konten utama

Mewawancara Wakil Gubernur?



Mereka mengeluhkan kenapa sekolah mereka tidak punya majalah sekolah. Mereka berinisiatif untuk membuat sebuah majalah. Boleh jadi andai nanti majalah itu jadi, mungkin akan menjadi majalah pertama dan terakhir, karena bicara majalah berarti bicara juga soal aturan dan tenggat. Seperti jangka penerbitan yang teratur yang membuat para redaksinya harus berjuang keras.

Masalahnya mereka adalah pelajar yang 5 hari dalam satu pekan akan belajar dari jam 7 pagi hingga 4 sore, bahkan sampai lebih sore jika sedang ada tugas atau kegiatan lain. Mereka juga punya kewajiban lain selain hanya belajar mata pelajaran umum di sekolah, mereka punya tugas rumah, mereka punya rencana pribadi, mereka punya kehidupan di luar sekolah dengan berbagai kewajiban juga. Intinya bagi saya, mereka adalah pelajar yang sibuk. 

Meski sejujurnya saya meragukan di awal, tapi saya harus memberikan hak yang sama, bahwa bila mereka berinisiatif sebuah terobosan, saya berkewajiban mendengar dan mengupayakan untuk implementasi nyata. Keinginan anak itu layak untuk diberikan ruang, maka saya mengenang masa silam semasa menjadi mahasiswa di Universitas Bengkulu. Ya, semasa kuliah saya adalah salah satu founder dan pemred Majalah Sahabat Rafflesia yang saat ini bahkan sudah menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa tingkat Fakultas Pertanian yang sah dan majalahnya ber ISSN. 

Sepakat semua anak yang tergabung di Dewan Pers Sekolah untuk membuat sebuah majalah, maka saya juga sepakat untuk mendampingi dan mengajarkan bagaimana proses manajemen pengelolaan majalah. 

Tahap pertama adalah penentuan nama dan warna majalah. Hal tersebut sangat penting karena akan mempengaruhi siklus perputaran majalah. Siapa segmen pasarnya dan bagaimana kemungkinan analisis keuntungan dari produksi majalah tersebut. Saya tidak ingin hanya sekedar majalah, ketika mereka semua berkomitmen untuk membuat majalah, maka bagi saya keseriusan penggarapan harus optimal. Majalah harus juga menjadi rang belajar ekonomi. Bahkan saya berharap para anggota redaksi mendapat apresiasi yang layak dengan itu. Kami sepakat membuat majalah remaja, santai, dan dengan rubrik yang tahan lama. 

Mereka lalu mendiskusikan rubrik yang mereka inginkan. Ini juga ada alasannya. Karena segmen pasarnya adalah teman sebaya mereka dengan rentang usia yang tidak terlampau jauh dengan mereka. Maka rubrik kesukaan mereka adalah rubrik yang berkemungkinan disukai juga oleh kawan-kawan mereka. Setelah penetapan rubrik, kami langsung berbagi tugas siapa yang akan menjadi tim layout, ilustrasi, desain sampul, dan siapa yang mengisi majalah dengan tulisannya. Semua anak diberikan tugas masing-masing dan siap bekerja untuk menuntaskan semua rubrik di sana. 

Tidak semua rubrik tersedia di internet, saya ingin mereka benar-benar menulis. Menulis sebagai hasil analisis mereka, menulis sebagai hasil pemikiran mereka. Ada sebagian yang harus menelaah sebuah buku, film, dan ada yang wawancara. Tugas wawancara ini yang menarik. Saya meminta mereka mewawancarai Wakil Gubernur Bengkulu. Alasannya karena edisi perdana ini kami mengangkat topik peneliti remaja. Karena wakil gubernur memiliki gelar akademik doktor dan dikenal sebagai seorang analisis dan akademis, saya rasa itu menarik, cocok. Keuntungan lain juga karena beliau adalah tokoh bengkulu dengan kekuasaan yang luas, semoga ini menjadi bagian dari upaya promosi mengenalkan calon majalah kami. Boleh kan? Bukan mencari untung, bagi saya ini masuk dalam strategi pemasaran. Bila sekali dayung bisa meraih 3 pulau, kenapa memilih hanya satu pulau untuk satu dayung. 

Saya harapkan mereka mampu mewawancarai sosok karismatik itu. Semoga ini menunjukkan tingkat keseriusan mereka dalam misi penggarapan calon masalalah kami. Semangat para calon penulis muda, kalian begitu dahsyat. 

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…