Langsung ke konten utama

Orang Dungu Itu Nyinyir



Saya sangat menghargai sebuah karya seni. Entah berupa karya rupa, tulis, atau pertunjukan. Kenikmatan lain juga adalah bicara proses, saya juga membiasakan untuk dapat selalu menghargai proses dalam menuju sebuah karya itu. Sehingga kemarahan saya apabila ada orang yang mencemooh sebuah karya kreasi, sementara dirinya tidak punya kapasitas untuk membuat yang lebih baik, bahkan membuat yang sama baiknya pun tidak. Bagi saya itu bukan kritik, tapi cemooh. Kritik masukan itu disampaikan dengan bahasa diplomatis dan membangun, cemooh itu adalah hinaan dari orang yang tidak punya kapasitas.

Ciri paling tampak dari golongan orang tak berkapasitas tapi suka sekali berkomentar ala pakar itu adalah ketidak mampuan mereka menikmati karya manusia. Mereka kehilangan definisi dan rasa dari proses membuat keindahan. Mereka disibukkan dengan pembenaran kosong pada opini yang mereka kuatkan. Meski keberadaan mereka tidak terlalu penting, atau saya terbiasa mengabaikan mulut mereka, tapi saya sangat marah bila itu menyangkut karya orang lain, terlebih karya pertama. 

Seperti pagi ini, saya dikejutkan dengan laporan adik saya yang desain gambarnya di cemooh. Bila itu saya, maka saya akan mudah mengabaikan, toh memang terbiasa seperti itu dan lagi-lagi dari orang yang sama. Tapi itu adalah karya pertama adik saya disini, dan saya tahu persis bahwa ia telah mengalokasikan waktunya cukup banyak untuk membuat itu, menggugah kreativitasnya hanya dengan clue sederhana dari saya. Saya tidak mau menerima yang seperti itu, dan lebih penting karena yang mencemooh pun tidak bisa membuatnya. 

Saya tidak tau persis apa isinya, berdasarkan informasi bahwa komentarnya adalah tentang konsep karya yang seperti karya untuk anak TK, bukan objek remaja. Saya ingin menanyakan bila itu di depan saya, seperti apa konsep desain anak remaja yang sesuai dia mau, apakah dia bisa menunjukannya? Mohon maaf saya sangat meragukan itu. 

Hampir sampai tengah hari saya masih memikirkan hal itu. Saya bahkan berfikir untuk memesiunkan diri dan tidak melibatkan adik saya pada proses pembuatan desain gambar apapun itu. Apakah menemukan jenis keahlian grafis itu mudah dan gampang. Tapi saya juga tidak fair bila karena kemarahan seorang yang tidak punya kapasitas seperti itu justru berdampak buruk pada lainnya. 

Setidaknya saya sudah menyampaikan hal ini secara lembaga, dan bahkan saya tulis dalam blog saya. Saya kira itu cukup, dan tidak perlu diperpanjang.  Mungkin kita akan lebih banyak lagi menemukan orang-orang tak berkapasitas dan dungu seperti itu, namun serasa piawai. Saya telah menyelesaikan persoalan itu di hari yang sama dengan klarifikasi dan peringatan, serta permintaan secara terbuka untuk lebih menghargai sebuah karya. Karena bahkan bila kau menganggap sebuah karya itu sederhana, belum tentu dapat kau buat dan tetap saja proses menuju karya itu telah mengambil energi dan waktu. Sangat tidak layak mencemooh, itu adalah kebiasaan orang dungu yang berakal rendah. Bila benar itu kritik membangun, sampaikan dengan bahasa baik dan diplomatis, saya akan lebih senang yang seperti itu. 

Hayuk biasakan mengapresiasi karya bila kita tak punya kapasitas disana. Tinggalkan budaya mencemooh, mulai belajar diam tanpa berkomentar, sampaikan/hal membangun dengan bahasa santun dan terbuka.


Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…