Langsung ke konten utama

Seberapa Berani LIPI Tunjukan Pilihan Itu ?


Meski  baru bergabung dengan dunia penelitian remaja sekolah, saya membaca begitu banyak kegelisihan yang dialami oleh ratusan atau bahkan ribuan guru pembina riset se Indonesia. Khususnya dalam hal kompetisi bergengsi bagi pelajar yang secara rutin dihelat serta melahirkan sosok-sosok peneliti muda berkelas dunia. Ini menjadi catatan menarik, bahkan membuat saya malu sendiri. Saya yang sering dilibatkan untuk mengisi pelatihan ke penulisan ilmiah, menjadi juri berbagai perlombaan karya ilmiah pelajar dan mahasiswa di provinsi saya, tapi saya gagal mengantarkan anak didik saya masuk sebagai nominasi di dalamnya. Salah satu kompetisi itu adalah Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang di adakan setiap tahun oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). 

Tahun ini adalah tahun ke 2 saya mengirimkan naskah anak didik dari sekolah saya untuk mengikuti LKIR LIPI. Tahun 2015 saya memang tidak tahu soal kompetisi semacam ini, sebab saya baru menyandang status pengajar di sekolah tempat saya mengabdi saat ini. Ketika informasi itu sampai ke saya, saya ingat saya hanya punya waktu 3 hari menjelang deadline. Itu pun karena ada waktu tambahan, bila tidak maka saya pasti sudah tidak sempat sekedar berpartisipasi. Dengan limit waktu yang demikian, akhirnya 4 naskah penelitian anak didik saya terkirim sudah. Lega. Saya menantikan informasi proposal terbimbing, dengan harapan semoga beruntung. 

Setelah diumumkan jumlah peserta mendaftar beberapa hari setelahnya, saya kaget juga, rupanya pesertanya lebih dari 2.000 proposal se Indonesia. Semuanya dibuat oleh pelajar tingkat SMP dan SMA. Pada tahap tersebut saya sudah tidak yakin, alasannya karena saya gagal menyiapkan anak didik saya dengan lebih baik. Di lain sisi saya begitu senang, rupanya animo pelajar Indonesia sangat baik. Jumlah tersebut mengejutkan bagi saya. Bagi orang yang menyukai dunia riset dan menulis semasa kuliah, saya kira hanya akademisi kampus yang begitu antusias terhadap penelitian, rupanya di tempat lain yang tidak saya ketahui, ada event besar dengan partisipasi mengagumkan. Saya juga penasaran, berapa proposal yang akan dibimbing. Saya kira bentuknya seperti PKM bagi mahasiswa. Pasti persentase keterbimbingannya tinggi. Dan beberapa hari kemudian dugaan saya meleset. Dari sekian banyak proposal, tidak sampai 100 bahkan yang terpilih, hanya sekitar 60an proposal (saya tidak menghitungnya secara pasti). Berarti lebih dari 1.900 proposal hilang, tidak bernilai, atau gagal. Saya sedih, tapi ada semangat lain. Saya coba persiapkan dengan lebih baik untuk tahun depan. Saya anggap ini pelajaran yang berharga. 

Tahun ini, meski persiapannya tidak jauh berbeda dengan tahun berikutnya, lantaran ketidak siapan saya membimbing, atau bolehlah saya salahkan karena secara pribadi banyak yang terjadi disekolah (dari ulang tahun seklah yang dirayakan dengan sangat hebat, lalu saya sebagai koordinator studipreneur tour yang akan membawa hampir seluruh siswa kelas XI keliling kampus dan industri di pulau Jawa sampai Malaysia, hingga begitu pulang disambut dengan persiapan ulangan tengah semester yang disekolah saya akan sama seriusnya dengan ulangan akhir semester), akhirnya kami mengirimkan 20 proposal. Ini pencapaian yang baik bagi saya, bahkan pertama. 

Proposal tersebut saya arahkan lebih dari 3/4nya ke bidang IPS. Sebab setelah saya hitung tahun lalu, partisipasi tertinggi ada pada biang IPA, lalu disusul teknologi, dan paling sedikit IPS. Maka saya kira ini strategi yang baik. Setelah semua itu, beberapa pekan kemudian diumumkanlah proposal terbimbing. Lebih dari 3.000 proposal masuk, akhirnya beberapa terseleksi secara administrasi. Menyisakan kalau tidak salah 2.100an saja (saya akan coba cek lagi angkanya). Meningkat dari tahun lalu. Dan setelah diumumkan jumlah proposal terbimbing hanya 56 judul saja. Saya terkejut, siswa saya lebih terkejut. Lebih banyak proposal yang diterima adalah proposal dari sekolah yang sama dengan tahun lalu. Di Bengkulu sendiri juga demikian. Pupus sudah harapan saya, saya harus menerima kalau tahun ini pun saya gagal mengantarkan siswa saya. Untuk persiapan tahun depan? Secara pribadi saya tidak mau terlalu memikirkan. Saya sedang memikirkan hal lain. 

Yang saya tahu, ada banyak anak di luar kami yang sama kecewanya. Dan kekecewaan anak itu telah pasti mengganggu semangat para guru pembimbingnya. Di sebuah grup WhatsApp tempat saya bergabung dengan para guru pembimbing penelitian se Indonesia, ada seorang guru rekan saya yang mengeluhkan kenapa begitu sulit untuk tembus seleksi LKIR LIPI. Bila saya baru mencoba dua kali, saya duga pasti ada yang telah mencoba lebih dari itu. Khususnya guru dengan semangat pengembangan penelitian yang tinggi. Dan pasti itu sangat menyakitkan karena lagi-lagi gagal membawa anak didiknya lolos seleksi. 

Guru tersebut mengeluhkan seperti apa sebenarnya penelitian yang diinginkan oleh juri di LIPI. Sebatas ini saja saya juga jadi muncul pertanyaan, adakah konsep strategis yang dimiliki oleh LIPI berkenaan dengan pelibatan pelajar dalam kegiatan ini. Semacam pertanyaan adakah grand design strategis out put kegiatan ini selain dari misi mulia mengenalkan anak pelajar dengan aktivitas penelitian, menyertakan mereka di kegiatan seremonial penelitian, dan alasan psikologis lainnya. Saya kira arahan strategisnya pun juga masih kabur, mengenai out put yang diinginkan. Karena bila ingin mengembangkan minat meneliti, kenapa jumlah yang akan dibimbing begitu sedikit. Bukankah semakin banyak peluang akan semakin menaikkan minat, serta motivasi penelitian pelajar akan tumbuh lebih baik. Kemudian jika itu mengarah pada satu arahan subjek penelitian, saya kira dari pengamatan judul penelitian yang lolos, tidak secara khusus mengarah pada target jangka panjang. Hanya seperti standar `saya suka ini, ini potensial, saya pilih ini` bukan berakar dari rancangan jangka panjang. Ah ini argumen subjektif saya, pribadi saya, saya kira ini tidak melanggar hukum karena saya muat di laman blog pribadi saya kan. 

Akhirnya guru tersebut mengajukan ide, bagaimana jika dibuatkan bunga rampai hasil penelitian, atau sekedar proposal penelitian, yang lolos dan terbimbing oleh LIPI. Tentu saya adalah orang yang menyambut baik. Saya juga ingin tahu seperti apa sih judul terbaik itu, bagaimana sih cara penulisan mereka, bagaimana sih metode penelitian yang berhasil membuat juri memilih mereka. Saya ingin tahu itu semua supaya saya bisa bersiap dengan amunisi yang tepat, bukan strategi kabur yang semua dari upaya saya meraba-raba keinginan juri di LIPI. 

Itu ide yang sangat menarik bagi kami, dan juga tantangan keprofesionalan yang tinggi bagi juri LKIR. Ya, poin ini juga sangat menarik bagi saya. Semacam ungkapan apakah juri benar berani mempertanggungjawabkan hasil pilihannya di depan ribuan judul yang gagal terpilih. Jika akhirnya LIPI berani mengupayakan itu, saya akan angkat topi, hormat saya yang tinggi untuk keberanian dan kebenaran membangun minat penelitian remaja Indonesia. Namun jika usulan itu hanya dianggap sebagai ide yang lintas lalu diabaikan, bolehlah saya bertanya, apakah itu berlandas dari keraguan memilih judul dan ketidaksiapan mempertanggungjawabkan pilihan? Izinkan kami untuk tidak harus berprasangka, sebagaimana kaum ilmuwan yang terbiasa secara terbuka menunjukkan hasil penelitiannya, tanpa prasangka. 

Wallahualam, saya juga menantikan jawaban itu. 

Postingan populer dari blog ini

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…