Langsung ke konten utama

Tantangan Lebih Besar, Sudah Siap Kah?



Mereka baru menyelesaikan video pendek mereka. Akhirnya 8 film pendek dan 4 video story telah mereka buat. Dengan periode pembuatan tidak lebih dari 1 minggu kebanyakan, bahkan ada yang hanya 1 hari saja. Saya pikir ini akan menjadi pembelajaran yang sangat baik. Mereka menempatkan diri sebagai seorang sineas profesional, dengan kejar target kompetisi, kualitas yang diperhatikan, proses pengambilan gambar yang tidak sederhana, serta editing sebagai bagian akhir dari proses produksi. 

Saya ucapkan selamat dan apresiasi yang tinggi untuk mereka. Barang kali ini pertama bagi kami mengirimkan jumlah peserta video pendek terbanyak, dimana sebelumnya paling hanya 2 tim saja. Sekarang sampai 6 tim dengan lebih dari 20 peserta didik terlibat proses produksi, dan lebih banyak lagi terlibat dalam pengambilan gambar sebagai pemeran. 

Saya juga bahagia, rupanya apa yang dulu pernah saya coba kenalkan, kemudian berkembang dengan baik bagi beberapa orang. Bila dulu saya mengatakan bahwa mengajari teknik dasar pengambilan video dan mengeditnya dengan software sederhana hanya sebagian dari proses pembelajaran formal, maka saat ini saya tahu, sebagian mereka terus mengembangkan bahkan sampai di tahap dimana saya belum bisa menggunakannya. Apakah ini kebanggaan seorang guru? Harusnya iya, tapi bagi saya itu adalah pukulan bagi saya. Mereka terus belajar dan berkembang, sementara saya berhenti pada angka 50 saja, pada skill menengah saja. Harusnya saya belajar lebih banyak lagi, supaya tetap bisa menjawab pertanyaan mereka. 

Secara keseluruhan, saya berikan penilaian baik pada seluruh hasil karya. Meski tidak sama kualitas antara satu dengan yang lain, saya lihat bahwa usaha itu jauh lebih baik dan penting. Dan walau bagaimanapun akan ada yang mengomentari dengan kata tidak puasa, bagi saya, yang melihat langsung proses itu, hasil mereka adalah hasil terbaik dan akan terus baik Mereka datang dengan tidak bisa, lalu bertumbuh lalu terus berkembang. Itu adalah bagian proses belajar penting yang tidak dapat digambarkan nilainya. 

Selain itu, saya menilai proses produksi tersebut juga adalah tantangan untuk menaikkan kapasitas skill mereka. Sebelumnya sebagian dari mereka, memerlukan waktu sampai 2 minggu untuk sebuah film pendek dengan durasi 5 menit. Kemudian mereka mulai terbiasa untuk melakukan proses produksi dengan hitungan satu pekan saja. Mulai dari membicarakan ide, menentukan skenario plot tokoh dan latar, pengambilan gambar, evaluasi hasil pengambilan, editing, revisi video, sampa siap render dan publish. Sebagian dari mereka secara mengejutkan dapat mengerjakan dalam hitungan 3 hari untuk semua proses tersebut. Lalu ada beberapa yang saya beri tantangan untuk menguranginya menjadi satu hari. Pagi menyelesaikan ide, sepanjang siang sampai sore pengambilan gambar, lalu malamnya edit. Besoknya telah siap publish. Hasilnya mengejutkan. Ada juga yang sanggup memenuhi tantangan itu. 

Lalu karena begitu fokusnya untuk satu kompetisi, tanpa sadar saya melewatkan kompetisi lain yang akan dilaksanakan tidak kurang 24 jam lagi. Bahkan saya baru sempat mendiskusikan idenya dzuhur. Fiksasi ide jam 2 dan mereka mulai mengambil gambar setelah itu. Esoknya mereka sudah harus menyiapkan. Entah dengan cuaca apa pun, dengan kondisi fisik bagaimana pun, mereka harus menyelesaikannya. 

Cerita berakhir dengan kekalahan, lagi. Meski mereka telah tumbuh dengan baik, rupanya belum cukup siap untuk kondisi darurat. Mereka berhasil menyelesaikan video, tapi akhirnya mereka membuat tidak dengan  optimal. Hasilnya pun tidak optimal. Mereka keluar dari ruang kompetisi dengan wajah suram. Sebagaimana kompetisi lain yang belum berhasil, saya dapat merasakan kekecewaan mereka. 

Hal paling baik adalah bahwa mereka pasti akan belajar dari hari ini. Mereka berkomitmen untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Namun, saya juga adalah orang yang paling sedih. Mau tidak mau, saya berpikir, boleh jadi turunnya kualitas mereka karena saya terlalu memaksakan pada wilayah kerja yang terlalu tinggi. Menyelesaikan sebuah film pendek dengan urasi kurang dari 24 jam, pasti masih berat bagi mereka. Terlebih mereka masih masuk dalam barusan pemula. 
Saya tahu jika upaya mereka telah sangat baik, tapi saya belajar, mungkin saya harus menurunkan standarisasi pembelajaran. Barangkali saya juga terlalu berburu buru dan berambisi dengan cara yang tidak baik. Meskipun terkandung pembelajaran yang baik bagi mereka, saya juga belajar akhirnya, tentang bagaimana meningkatkan efisiensi pengerjaan sebuah film pendek. Semoga lain kali kami akan sama-sama tersenyum bahagia, manakala karya kami terapresiasi dan dinikmati penonton dengan tepuk tangan meriah. 

Mungkin masih jauh, tapi mari kita kejar mimpi tersebut, dan persiapkan diri menjemputnya. Kita punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi itu dalam 10 tahun ke depan, atau 5 tahun ke depan, atau mungkin tahun depan saja. Tergantung tingkat kekuatan kerja kita. 
Selamat bagi para sineas muda berbakat di sekolahku.

Postingan populer dari blog ini

Ilusi itu bernama 'Wisuda'

Saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang baru saja meraih gelar Sarjana. Kalian berhasil menaklukkan dan memenangkan diri sendiri. Kalian berhasil melalui proses yang panjang untuk hari besar itu. Percaya saja, berfoto mengenakan toga itu sungguh sangat menyenangkan.  Selamat (jalan) ya.
Tapi itu tidak akan lama. Saya ingat pernah berbicara di depan lebih dari 850 mahasiswa baru. Saya bertanya kepada mereka semua (mungkin mereka saat ini juga telah wisuda), pertanyaan yang cukup di jawab dengan mengangkat tangan. 'Silahkan angkat tangan kalian yang selama kuliah ingin mendapat IPK 4, menjadi pengusaha mahasiswa yang berhasil, menjadi delegasi pertukaran mahasiswa, menjadi wakil universitas dalam berbagai lomba, menerbitkan buku pertama dan lain-lain'. Tidak bisa terhitung secara tepat, tapi saya ingat 95% dari mereka angkat tangan. Menarik sekali. 
Lalu saya bertanya kembali kepada mereka, setiap tahun Universitas Bengkulu meluluskan lebih dari 3.000 mahasiswanya. Apakah …

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Kopdar Blogger Bengkulu 'Pertama'

Bukan Kopdarnya yang pertama, tetapi saya yang baru pertama mengikuti Kopdar ini. Saya tertawa-tawa saja, ini pertemuan ke 9,artinya sudah 9 bulan berdiri, dan saya baru hadir di kumpulnya blogger Bengkulu. Menyenangkan.

Saya tertawa-tawa sebab saya memandang sebuah rumah yang saya tinggakan. Dalam versi saya, artinya bisa muncul banyak versi, komunitas ini lahir bersamaan dengan datangnya kawan-kawan Kompasiana yang mengumpulkan Blogger Bengkulu. Tentu sebelumnya sudah ada keinginan untuk berkumpul para blogger di Bengkulu, lalu saat itu disepakati untuk di bentuk komunitas Blogger Bengkulu.

Pada periode ini, saya yang diminta mendesain logo komunitas ini, maka jadilah sebuah logo sederhana yang saya tak menyangkan tetap digunakan hingga saat ini. Ah, saya berharap bisa melakukan sedikit perbaikan desain logo itu, tapi sudah terlanjur dipakai bersama-sama.

Hari ini saya mengikuti kegiatan Kopdar bersama. Saya menyempatkan dengan sungguh-sungguh setelah sering gagal menghadiri undang…