Langsung ke konten utama

Tinggalkan Kelas Lalu Bermain, Kenapa Tidak ?


Proses pembelajaran di sekolah adalah seperangkat kegiatan yang didesain secara formal dan kaku. Boleh saya benarkan, berada di sekolah seperti pula berada di penjara. Siswa belajar rutin, harus mengerjakan ujian dengan baik, waktu libur diatur, waktu istirahat diatur, didalamnya ada beragam sanksi, juga ada beragam apresiasi. Tidak hanya bagi siswa, bagi guru pun sekolah juga dapat menjadi seumpama penjara. Setiap bulan akan datang tim supervisi dari dinas pendidikan setempat, menanyakan administrasi pembelajaran dari yang berat sampai yang remeh temeh. Menanyakan bagaimana progres pembelajaran, setiap akhir semester mengolah nilai yang sangat banyak, di awal tahun ajaran sudah harus menyiapkan perangkat pembelajaran yang akan ditanya dengan garang oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum.

Karenanya lembaga pendidikan seperti sekolah, benar-benar menjadi desain belajar formal yang syarat dengan tekanan. Didalamnya terhimpun banyak orang dengan kepala menunduk memerhatikan pelajaran dan tugas, guru dengan dahi berkerut karena syarat tuntutan, dan struktur sekolah yang frustasi memikirkan berbagai kewajiban yang tidak seporsi dengan haknya. Didalamnya terhimpun orang-orang yang begitu mendambakan akhir pekan, libur semester, atau libur panjang lainnya.

Keformalan sistem belajar tersebut yang membuat saya sering berontak dan bertanya-tanya, kenapa lembaga pendidikan harus se serius dan formal itu. Anggap saja pernyataan saya karena saya adalah pengajar yang tersasar yang lahir bukan dari rahim departemen keguruan. Saya membayangkan sebuah proses belajar yang lentur dengan target yang jelas, bila sekolah adalah embaga yang bertujuan membangun karakter, maka program pengembangan karakter dengan mempertimbangkan keragaman tipe kecerdasan anak harus diperhatikan dan digarap dengan energi total, bukan formalitas abstrak yang dituliskan menjadi silabus kurikulum.

Proses berfikir merdeka tersebut yang membuat saya menemukan cara mengajar secara bebas. Saya tidak suka terikat dengan konsep baku yang sumbernya adalah penilaian dari para guru atau orang terdahulu. Bagi saya, relevansi konsep itu harus disesuaikan dengan zamannya, kita tidak fair bila menetapkan standar keunggulan proses pembelajaran dengan standar para pendahulu, kita berada di periode yang jauh berbeda dengan itu. Maka dari pada memaksakan untuk menyerupai pola terdahulu, saya memilih menemukan pola saya yang saya ilhami dari proses kekinian.

Salah satu yang baru saya lakukan adalah mengalihkan pembelajaran English Conversation untuk bermain-main di luar kelas. Saya mengambil momentum pelajaran tersebut karena pada saat yang sama akan terlibat 2 kelas. Saya rasa ini menarik untuk membuat games kepemimpinan tim antara 2 kelas, selain pesertanya menjadi banyak, daya kompetisinya juga lebih terasa menarik, karena masing-masing anak akan merasakan daya kompetisi untuk membuat kelasnya menjadi pemenang.

Jadilah kami menghabiskan 2 jam pelajaran untuk bermain berbagai permainan. Membentuk tim kecil, melangsungkan berbagai proses bersama, saling bahu membahu menuntaskan permainan, sampai titik kompetisi penghabisan. 

Untuk semua teman pengajar, cobalah kita lihat seperti apa ekspresi murid kita. Apakah semasa kita sekolah dulu pun kita selalu merasa nyaman, atau kita dulu juga mengharapkan hal serupa dimana kita menantikan guru kita mengajak kita bermain santai di luar kelas, mengangkat penat dan gelisah, menjadi ceria dan senyum lega. 

Mana yang lebih melegakan, mengingat senyum bahagia murid kita atau selembar kertas yang dibagikan setiap akhir semester saja. Bukankah kesan itu selalu soal hati, lalu kenapa kita selalu mencoba meraih cinta mereka dengan kertas dan akal. Ah, ini memang tidak tertulis di silabus dan kurikulum, tapi saya selalu yakin, membangun seorang anak menjadi pemimpin itu tidak bersumber dari akal. Kita punya kesempatan untuk membuat suasana lebih lentur di sekolah. Ayolah, sekali-kali coba kita tinggalkan kelas lalu bermain bersama mereka, kenapa tidak kan?

Postingan populer dari blog ini

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…