Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2016

Bukti Kerasnya Hidup Bernama THR

Debaran sebagian besar orang menjemput momen pembagian THR (Tunjangan Hari Raya) barangkali sama bungahnya dengan perasaan gadis udik yang tengah dipinang bujang rupawan nan berharta. Sebab momen menantikannya memang selalu penuh dengan angan tinggi dan harapan selangit. Bahkan histeria hari raya selalu ganjil tanpa angpao buruh ini. Ya, yang paling menantikan angpao semacam ini pastilah buruh atau pegawai rodi yang setiap bulannya hanya berbalas gaji mepet-mepet. Selain juga karena THR selalu berarti uang jajan untuk lebaran, THR rupanya pula bernilai hiburan tahunan dari kepahitan hidup kaum `bangsawan sehari` ini. Makanya hampir tiap ramadhan, bagi segenap pegawai dan buruh terjajah di Tanah Air tercinta, 10 hari terakhir ramadhan tidak hanya penting karena adanya malam lailatul qadar yang mulia, tapi juga karena THR sering dibagikan juga di 10 hari terakhir ramadan. Sederhananya agar para pegawai itu tidak buru-buru mudik meninggalkan kerja. 
Pada dasarnya, sebagaimana cinta mony…

Guru (Gagal) Berguru Gaya Baru

Bila sering kita bicara aspek paling berperan dalam rendahnya kualitas pendidikan kita adalah pemerintah atau siswa, saya menemukan perspektif pahit dalam beberapa kali kesempatan mengikuti pelatihan yang didalamnya adalah para guru senior (re;usia). Ya, perspektif tersebut adalah faktor keberadaan guru. 
Masuk dalam siklus pendidikan formal dengan latar belakang pendidikan non KIP, saya memiliki ekspektasi tinggi. Bahasa lain parasaan ini adalah rasa hormat saya pada guru. Mereka selalu saja tangguh berjuang mengajar sepanjang hari di tahun yang panjang, melakukan ransfer ilmu dengan keragaman kondisi, dan perjuangan dari ketulusan yang menahklukkan saya. Ekspektasi tinggi tersebut membuat saya ciut, minder, saat saya berkesempatan mengikuti pelatihan kurikulum dengan seluruh pesertanya adalah para guru senior dan berlatar pendidikan KIP. Makanya, saya selalu sungkan untuk bertanya, menunjukan diri, atau mengambil alih sesi microteaching. Saya mengambil bidang pemikiran dan sesi pem…

Kita Punya Warna : Menyoal Literasi

Seandainya kita survei, bagaimana tanggapan masyarakat kita tentang Indonesia, saya prediksikan akan lebih banyak terdengar keluhan ketimbang kebanggaan. Sederhananya, keluhan seperti itu seolah menjadi sesuatu yang mengakar, mungkin disebabkan faktor kepuasan terhadap kinerja pemerintahan (menuliskan kata `pemerintah` di sini pun seperti dilema, saya punya pandangan menyebutkan pemerintah sebagai penyebab utama keluhan itu tidak sepenuhnya tepat, meski juga tidak memungkiri ada pula pasti ada sumbangsih mumpuni pemerintah dalam proses keluhan itu juga). Keluhan itu menyebar secara rata hampir semua aspek, termasuk menyoal budaya baca tulis.
Kita berkiblat ke negara maju,/seringnya seperti itu. Bila kita coba amati untuk standar penilaian kita pada angka literasi, Indonesia masuk pada jajaran rangking terendah dari jumlah negara yang dijadikan objek survei. Ini menyedihkan, bagaimana mungkin sebuah bangsa yang terbiasa bertutur kisah adalah negara yang standar literasinya rendah. Kit…

Bangsa Paranormal : Menyoal Literasi

Boleh saya sebut kita adalah bangsa paranormal, yang suka sekali menebak dan merasa yakin telah mengetahui masa depan sebelum waktunya. Konteks ini saya kaitkan untuk mengkritisi budaya baca kebanyakan masyarakat Indonesia dewasa ini. 
Saya meyakini, sebenarnya budaya baca masyarakat Indonesia sangat baik. Tingkat keterbukaan dan melek teknologinya juga baik. Aktivitas menulis masyarakat, khususnya kaum produktif muda, juga sama baiknya. Hanya saja di satu sisi, dibalik kebaikan itu lahirlah perilaku paranormal. Mereka membaca, tapi hanya membaca judul dan merasa yakin telah mengetahui seisi buku. Bagi saya, kebiasaan unik ini seperti akar yang terhubung dengan tradisi silam. Kita yang hidup dengan akar sejarah mistis kini berevolusi sesuai kemajuan zamannya. 
Masyarakat kita sangat melek teknologi, buktinya kita suka sekali menggunakan perangkat teknologi mutakhir. Anak yang belum mengenal huruf, bahkan sudah dengan mudahnya menggunakan telepon pintar untuk bermain games, menonton, …