Langsung ke konten utama

Bangsa Paranormal : Menyoal Literasi



Boleh saya sebut kita adalah bangsa paranormal, yang suka sekali menebak dan merasa yakin telah mengetahui masa depan sebelum waktunya. Konteks ini saya kaitkan untuk mengkritisi budaya baca kebanyakan masyarakat Indonesia dewasa ini. 

Saya meyakini, sebenarnya budaya baca masyarakat Indonesia sangat baik. Tingkat keterbukaan dan melek teknologinya juga baik. Aktivitas menulis masyarakat, khususnya kaum produktif muda, juga sama baiknya. Hanya saja di satu sisi, dibalik kebaikan itu lahirlah perilaku paranormal. Mereka membaca, tapi hanya membaca judul dan merasa yakin telah mengetahui seisi buku. Bagi saya, kebiasaan unik ini seperti akar yang terhubung dengan tradisi silam. Kita yang hidup dengan akar sejarah mistis kini berevolusi sesuai kemajuan zamannya. 

Masyarakat kita sangat melek teknologi, buktinya kita suka sekali menggunakan perangkat teknologi mutakhir. Anak yang belum mengenal huruf, bahkan sudah dengan mudahnya menggunakan telepon pintar untuk bermain games, menonton, membuat panggilan, menggambar, dan lain-lain. Kita pembaca yang sangat baik, yang terbiasa membaca meski sedikit, meski sebaris, dan meski sebuah status di dinding sosial media. Kebiasaan membaca itu seiring dengan kebiasaan menulis cepat, dimana secaa rutin kita terbiasa membuat sebuah status di jejaring sosial. 

Saya kira bila kita melihat dari sudut pandang kekakuan, kita akan mengatakan keseluruhan aktivitas itu adalah rangkaian kegiatan kurang produktif. Namun bagi saya, meski tidak saya sebut mutlak penggambaran minat membaca menulis masyarakat, tetapi ini adalah bagian dari ke khasan yang menarik untuk di modifikasi. 

Bonus ke Khasan yang menarik lainnya untuk dipelajari adalah berkenaan dengan budaya baca masyarakatnya. Entah karena kualitas tulisannya yang belum mumpuni, atau memang menjadi karakter umum yang mencirikan dan dapat disebut sebagai salah satu ciri umum masyarakat kita, yaitu kebiasaan membaca artikel atau tulisan, baik di koran ataupun di situs berita maya, hanya sebatas judulnya saja. Saya banyak menjumpai, cukup banyak rekan saya hanya akan melewatkan koran harian lokal daerah kami dengan sepintas lalu. Membaca judulnya lalu tidak sampai lima menit merasa telah mengetahui seluruh isi koran setebal 60 halaman itu. 

Ini bakat, ini khas. Bila dulu saya menyalahkan semua aktivitas instan itu sebagaimana sering menjadi topik hangat seputar menurunnya minat baca dan salah guna gadget, saat ini saya coba berpikir, mungkin kita bisa memodifikasi kebiasaan ini hingga tetap menjadi produktif. Saya kira ini cukup fair. 

Postingan populer dari blog ini

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…