Langsung ke konten utama

Bukti Kerasnya Hidup Bernama THR



Debaran sebagian besar orang menjemput momen pembagian THR (Tunjangan Hari Raya) barangkali sama bungahnya dengan perasaan gadis udik yang tengah dipinang bujang rupawan nan berharta. Sebab momen menantikannya memang selalu penuh dengan angan tinggi dan harapan selangit. Bahkan histeria hari raya selalu ganjil tanpa angpao buruh ini. Ya, yang paling menantikan angpao semacam ini pastilah buruh atau pegawai rodi yang setiap bulannya hanya berbalas gaji mepet-mepet. Selain juga karena THR selalu berarti uang jajan untuk lebaran, THR rupanya pula bernilai hiburan tahunan dari kepahitan hidup kaum `bangsawan sehari` ini. Makanya hampir tiap ramadhan, bagi segenap pegawai dan buruh terjajah di Tanah Air tercinta, 10 hari terakhir ramadhan tidak hanya penting karena adanya malam lailatul qadar yang mulia, tapi juga karena THR sering dibagikan juga di 10 hari terakhir ramadan. Sederhananya agar para pegawai itu tidak buru-buru mudik meninggalkan kerja. 

Pada dasarnya, sebagaimana cinta monyet remaja SMA, hadirnya THR yang dinanti setiap tahun itu hakikatnya adalah bentuk nyata dari apa yang disebut sebagai `Kebahagiaan Semu dan Menipu`. Sifatnya fana level akut, sebab THR mengandung gen yang mudah berevolusi dalam sekejap setelah diterima. Yakni dari Tunjangan Hari Raya menjadi Tagihan Hari Raya. Sesiapa yang menerima THR umumnya langsung mengubah haluan dari rencana yang telah di buat. Bila sebelumnya bermaksud membeli ini dan itu, maka hadirnya THR di tangan akan berubah tujuan menjadi `membayar cicilan ini dan itu`. Ekspektasi pra penyerahan THR selalu menyakiti perasaan kaum buruh dan pegawai gajian. Nilai THR selalu saja kurang dari kebutuhan dan rencana anggaran. Lebih menyakitkan lagi saat kesadaran telah kembali, yaitu hadirnya THR adalah bukti kepahitan hidup terselubung. Sifat aslinya membuat mereka yang menerima THR akan lebih menderita batin dikarenakan jumlah yang diperoleh akan terasa selalu kurang, sementara kebutuhan lebaran terasa menjadi lebih tinggi dari hari biasa. 

Tidak sampai disitu, kejamnya THR adalah sifat jangkitnya yang menumbuhkan candu. Entah bagaimana pun kita menyadari bahwa THR tidak selalu solusi penggembira di tengah kerasnya hidup, kenyataannya THR telah menjadi kebiasaan yang mengakar. Akhirnya THR menjadi budaya yang tidak boleh dilupakan dan sifatnya hampir wajib. Pada kasus THR yang tidak kunjung dibagi misalnya, dalam sekala kecil akan menimbulkan dampak mewabahnya umpatan-umpatan dengan sekala bisik-bisik tetangga hingga goyang heboh. Tak jarang dapat menimbulkan tindakan anarkis bila bersinggungan dengan jadwal mudik dan tragedi rebutan tiket kereta. Bahkan bila terjadi penundaan THR dalam sekala besar, dipastikan isu THR ini akan menjadi isu nasional yang memaksa turunnya Surat Keputusan Presiden khusus menyoal THR. 

Lantas apakah harus diadakan tindak  penolakan THR? Tentu tidak juga demikian. Meski wujudnya menipu, THR tetap wajib diterima. Hanya supaya dampak hadirnya THR kembali ke fitrahnya, yaitu berbagi berkah di bulan ramadan, penggunaan alokasi THR yang diperoleh harus juga mengandung unsur berbagi. THR adalah salah satu jenis dari banyak rizki, makanya ia selalu juga mengandung hak bagi yang lain. Bila THR hanya dihabiskan untuk kepentingan individu dan sebatas bicara kebutuhan leher ke bawah, maka itulah yang membuat tekanan di kepala. Karena alokasinya tidak menyentuh kebutuhan otak. Maka, mari sesiapa pun pegawai di dunia ini, memanfaatkan THR secara seimbang. Sebagian berikanlah sebagai zakat atau sedekah. Sebagian digunakan untuk membeli buku untuk perkaya ilmu. Sebagian manfaatkan untuk mengajak sobat kerabat makan malam bersama, baru sebagian dimanfaatkan untuk pelengkap ari raya. 

Supaya THR tidak menjadi anarki, dan nilainya tidak memicu tirani. 

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…