Langsung ke konten utama

Guru (Gagal) Berguru Gaya Baru


Bila sering kita bicara aspek paling berperan dalam rendahnya kualitas pendidikan kita adalah pemerintah atau siswa, saya menemukan perspektif pahit dalam beberapa kali kesempatan mengikuti pelatihan yang didalamnya adalah para guru senior (re;usia). Ya, perspektif tersebut adalah faktor keberadaan guru. 

Masuk dalam siklus pendidikan formal dengan latar belakang pendidikan non KIP, saya memiliki ekspektasi tinggi. Bahasa lain parasaan ini adalah rasa hormat saya pada guru. Mereka selalu saja tangguh berjuang mengajar sepanjang hari di tahun yang panjang, melakukan ransfer ilmu dengan keragaman kondisi, dan perjuangan dari ketulusan yang menahklukkan saya. Ekspektasi tinggi tersebut membuat saya ciut, minder, saat saya berkesempatan mengikuti pelatihan kurikulum dengan seluruh pesertanya adalah para guru senior dan berlatar pendidikan KIP. Makanya, saya selalu sungkan untuk bertanya, menunjukan diri, atau mengambil alih sesi microteaching. Saya mengambil bidang pemikiran dan sesi pembuatan tugas di depan komputer. Malu-malu duduk di pojok ruangan. 

Namun, setelah mengikuti berbagai macam kegiatan dengan pelibatan variasi guru peserta, saya menemukan fakta bahwa definisi guru sekolah tidak sama dengan kenyataan di balik layar. Artinya bila sejak dulu saya dipahamkan untuk menghormati guru, memahami posisi guru, dengan ekspektasi yang tinggi, saya kecut, terlalu banyak hal yang harus diperbaiki. Banyak saya temukan guru yang mandek belajar, tidak lagi suka mengadopsi pengetahuan kekinian, fokus pada masa lalu dan tidak tertarik dengan teknologi. Akhirnya cara mengajar pun menjadi sangat kaku, tidak ada perbedaan mengajar antara 10 tahun lalu dengan saat ini, padahal saya pahami kebijakan revisi kurikulum dmaksudkan untuk menyesuaikan dengan pola pikir objek pendidikan kekinian. 

Para ahli dan konsultan pendidikan telah melahirkan berbagai macam metode ajar yang dapat diakses secara global. Keberadaan pembaruan tersebut lahir dari ikhtiar memperbaiki kualitas pendidikan. Namun entah terlalu berat materinya, ketiadaan sarana, sudut pandang atara pemangku kebijakan dan teknisi yang tidak satu simpul, atau mungkin faktor gurunya sendiri yang memang tidak mau berevolusi menjadi guru baru. 

Setelah saya mengikuti berbagai macam pelatihan kurikulum 2013, saya coba menemukan benang merah arahan kurikulum dan harapan yang diinginkan sebagai output. Semuanya adalah penyegaran dan pengubahan metode mengajar agar lebih segar dan sesuai dengan kondisi  kekinian. Untuk menyampaikan itu lalu dibuat skema transfer pembaharuan kurikulum. Diadakan berbagai macam pelatihan dan melibatkan riuan guru sebagai instruktur untuk menyampaikan informasi pembaharuan kurikulum ke jutaan guru di berbagai sekolah. Konsepnya benar-benar rapi, sitematis, dan menarik. Hanya, lagi-lagi, tidak selalu mudah menerapkan sesuatu yang baru yang itu berarti mengubah kebiasaan yang bertahun mengakar. Maka saya maklum seandainya banyak guru senior yang tidak akan mudah move on dari cara mengajar masa lalu menjadi gaya baru. Hanya sampai pemakluman berikut pun, saya masih menemukan fakta yang kecut. Para guru baru pun  yang berusia kurang dari 35 tahun, rupanya tidak berbeda jauh. Mengadopsi metode primitif, meski presentasinya tidak sebanyak generasi dahulu (pandangan subjektif penulis).

Akhirnya saya kesal, bagaimana mungkin dapur pendidikan kita tidak sesistematis ekspektasi yang tertanam di kepala saya bertahun lau sejak saya mengenal pendidikan. Saya merasa putus asa, tapi juga saya meraba mungkin tidak juga salam menjadi guru yang demikian. Sementara mereka memikirkan begitu banyak generasi muda, terancam pula dengan undang-undang HAM yang membuat guru diam pada tindak pelanggaran siswa. Lebih jauh lagi kondisi perekonomian para guru yang dengan upayanya yang hebat, ketulusannya, keikhlasannya, justru hidup dalam kungkungan kemiskinan. 

Ah, semua ini dilema. Sebisa mungkin saya menganggap salah, seorang guru selalu masih profesi yang mulia. Terlepas dari berbeda individu berbeda pula cara. Do'a saya untuk pendidikan Indonesia, semoga generasi baru kini melahirkan guru-guru pembelajar yang bekualitas. Pasti akan ada anak-anak muda yang peduli, kokoh, dan pasti suatu masa yang dekat nanti, Indonesia akan menjadi negara dengan kualitas pendidikan terbaik di Dunia. 

Salam cinta aya untuk para guru pembelajar Indonesia. 


Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…