Langsung ke konten utama

Kita Punya Warna : Menyoal Literasi



Seandainya kita survei, bagaimana tanggapan masyarakat kita tentang Indonesia, saya prediksikan akan lebih banyak terdengar keluhan ketimbang kebanggaan. Sederhananya, keluhan seperti itu seolah menjadi sesuatu yang mengakar, mungkin disebabkan faktor kepuasan terhadap kinerja pemerintahan (menuliskan kata `pemerintah` di sini pun seperti dilema, saya punya pandangan menyebutkan pemerintah sebagai penyebab utama keluhan itu tidak sepenuhnya tepat, meski juga tidak memungkiri ada pula pasti ada sumbangsih mumpuni pemerintah dalam proses keluhan itu juga). Keluhan itu menyebar secara rata hampir semua aspek, termasuk menyoal budaya baca tulis.

Kita berkiblat ke negara maju,/seringnya seperti itu. Bila kita coba amati untuk standar penilaian kita pada angka literasi, Indonesia masuk pada jajaran rangking terendah dari jumlah negara yang dijadikan objek survei. Ini menyedihkan, bagaimana mungkin sebuah bangsa yang terbiasa bertutur kisah adalah negara yang standar literasinya rendah. Kita punya warna, kita mungkin tidak akan sama dengan bangsa lain. Memaksakan secara berlebihan untuk menjadi sama saya kira juga kurang tepat. Karena kita punya warna sendiri. 

Kita berbangga mengisahkan beberapa negara maju yang terbiasa membaca buku sembari menunggu kereta di stasiun, membandingkan dengan tradisi kita yang menunggu berarti berkenalan dengan orang baru dan mencari keluarga baru. Kita memang berbeda, bila negara lain berbudaya seperti itu, kita punya nilai literasi lain yaitu kebiasaan bertutur, bersilaturahmi, dan ramah kepada semua orang. Itu adalah kekuatan yang harus diolah dengan cara kita, karena tidak akan bisa menjadikan sesuatu itu berubah bila tidak menggunakan cara yang paling sesuai dengan lahannya. Memaksa kita akan menjadi sama dengan negara lain akan susah, tetapi memodifikasi kebudayaan literasi kita untuk dikembangkan dan meningkatkan budaya baca tulis, saya kira lebih membumi dan menarik. 

Saya tidak mengatakan bahwa kita harus abai pada membaca dan menulis teks. Karena menulis adalah proses dokumentasi dan transfer ilmu yang lebih luas jangkauannya dan lebih lama usianya ketimbang cerita bertutur. Sebuah dongeng rakyat bisa termodifikasi sebanyak penuturnya. Sementara sebuah karya tertulis tidak mudah untuk dimodifikasi. 

Mari mengenal warna kita, mengolahnya menjadi kekuatan yang membumi, dan lalu membangun literasi bangsa dengan cara yang paling mudah diterima oleh masyarakatnya. Menjadi cerdas dengan cara kita, kurang lebih seperti itu gagasan tulisan ini.

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…