Langsung ke konten utama

Menelaah Kebijaksanaan Hidup Lewat Tradisi dan Tari #4


Judul: Berhantar Pulang di Kampung Nelayan Malabero Bengkulu
1. Mari rehat dengan selingan topik keBENGKULUan selain dari Tari-tari di Bengkulu
2. Judul kita kali ini 'Berhantar Pulang Damai di Kampung Nelayan Malabero Bengkulu'
3. Kita akan bicara budaya melekat yang tak tertulis dalam prasasti di Kampung Nelayan Malabero
4. Kampung Nelayan yang di apit eloknya pantai panjang dan Kampung Cina
5. Kampung Nelayang yang disanding Benteng Gagah Malborough
6. Kampung yang menjadi induk dari semua nelayan Bengkulu
7. Yang menyambut tangis bayi dengan suka cita sebagai anugerah dan kesyukuran
8. Pula yang menghantarkan mereka yang pulang dalam kebersamaan
9. Ya, salah satu yang menarik dari kampung nelayan tertua ini adalah menghantar pulang
10. Bila salah seorang warga kampung ini meninggal, semua akan merasakan duka
11. Kapal tertambat seluruh, anak-anak pun tak berenang di pantai
12. Warga akan bertandang ke ahli musibah, membawa sedekah ala kadarnya
13. Bahkan bila air begitu tenang dan angin sepoi, jangan kira mereka akan ke laut hari itu
14. Semuanya meninggalkan kapal penghidupan mereka
15. yang di kantor dan pedagang menutup lapaknya
16. Tumpah ruah khusuk dalam duka mengiring doa yang telah berpulang
17. Mungkin karena semua adalah sudara, hidup menjara ikan di bulan purnama
18. Sebab ikatan mereka kuat, sesama nelayan yang berharap berkah laut
19. Satu tangkapan ikan adalah berkah semua orang
20. Topang bersama menjinjing bronang dan mendorong sampan
21. Menikmati ombak tinggi sambil bergurau di bibir pantai
22. Memintal jala dengan berandai sekolah tinggi bagi anak-anak mereka
23. Maka wajarlah bila sejak bertahun-tahun lamanya, semuanya terikat dalam satu nama 'Keluarga'
24. Maka tengoklah, musibah berpulang itu adalah duka bersama
25. Disini kita tau bahwa manusia memiliki nilai tidak sekedar harta
26. Cerita yang dibangun bersama sebagai kenangan itulah bekal persaudaraan itu
27. Dan bentuk penghormatan itu dengan meninggalkan kehidupanan demi berdamai dengan kematian
28. di Kampung nelayan Malabero, saya temukan cerita tentang saudara yang agung
29. Mengingati sesiapa mereka dengan ikhlas dan tawa
30. Mari kita cermati eloknya, inilah satu bagian dari budaya milik kita
31. Ya, ini budaya kita, yang dapat dijumpa di Bengkulu
32. Bertandanglah sebentar mencicip ikan pais
33. Bergurau bersama Uncu Leha sembari menikmati senja
34. Kau akan tau kemudian, kenapa Sukarno begitu cinta tanah ini
35. Sebab tanah damai ini, adalah tanah tempat berpulang dengan damai
36. Salam cinta untuk Indonesia, dari saya dan Bengkulu

Link chripstory : http://chirpstory.com/li/334982

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…