Langsung ke konten utama

Batatik HDS.03 : Bukan Sekedar Menghasilkan Karya Riset



Selalunya ada cerita menarik sepanjang syaa membersamai murid-murid saya dalam pengembangan riset. Khusnya saat kami akan mengembangkan sebuah inovasi yang melibatkan berbagai keterampilan ilmu. Kadang saya rasa terlalu dini untuk sekedar riset bagi pelajar tingkat SMA. Tapi saya lebih sering beranggapan, tidak ada kata ‘sekedar’ untuk sebuah inovasi dan upaya mempertahankan ide.

Pada Oktober lalu akhirnya saya beranikan mengikuti kompetisi robot di Jakarta, dengan syarat bahwa inovasi yang di buat harus sebuah inovasi yang memang layak untuk menjadi juara. Sehingga bila kami akan datang, minimal Juara 1 harus sudah di tangan. Gagasan yang diangkat juga harus original serta berdampak signifikan untuk mengurangi masalah yang ada. Maka ke dua murid saya, Holik Ramadhan dan Deni Rahmat Ramdhani akhirnya berani mengambil tantangan. Bila inovasi yang dikerjakan menarik dan prospek untuk menjadi Jura, maka akan diikuti. Lebih jauh saya berfikir untukmenjadikannya sebagai inovasi yang akan mereka kembangkan kelak di Perguruan Tinggi.
Batatik HDS-03 adalah generasi ke 3 inovasi pengubah sampah plastik menjadi bata bangunan. Artinya inovasi ini merupakan inovasi yang lahir sebagai hasil pengembangan inovasi sebelumnya. Pada dasarnya belum bisa saya katakan sempurna, bahkan mungkin baru 10% saja dari keseluruhan gagasan yang kami bangun. Biarlah akan diselesaikan ketika mereka telah benar-benar dekat dengan dunia penelitian kelak.

Pada perjalnanannya rupanya memerlukan energi yang jauh lebih besar dari yang saya bayangkan.  Murid-murid saya harus berkali-kali sepanjang hampir 4 minggu bergadang di laboratorium sekolah. Puncaknya menjelang satu pekan lomba dimana terjadi berbagai macam eror yang harus segera dituntaskan.  Lebih rumit sebab menjelng satu pekan kompetisi saya justru tidak dapat mendampingi mereka. Saya membawa murid saya yang lain untuk Festival Literasi Nasioan di Palu, Sulawesi. Maka jadilah proses ini menjadi lebih berat dari kerja sebelumnya.

Hal yang saya ingat dari proses itu adalah proses pembelajaran bagi murid-murid saya tentang definisi inovasi sesungguhnya . Saya selalu menekankan bahwa yang disebut inovasi unggul bukan soal tampilan yang megah atau mahal, tetapi lebih bagaimana kemanfaatan untuk menyelesaikan masalah sekitar yang rumit. Masalah seperti lingkungan hidup, energi, adalah topik yang tak pernah putus hingga kini. Maka saya sangat ingin murid-murid saya kelak akan menjadi bagian dari proses memperbaiki bangsa ini melalui inovasi. Bisa jadi saya tidak akan pernah bisa seperti Habibie, tapi saya selalu bisa berharap dari murid saya akan lahir generasi Habibie selanjutnya.

Pengajaran yang saya lakukan barangkali terlalu berat untuk ukuran anak SMA. Tapi saya juga sampaikan bahwa usia SMA kita disini tidak sama dengan usia SMA di negara lain, bahkan di kota lain. Maka ketika kita mencurahkan energi kita untuk sebuah inovasi yang akan menyelesaikan amsalah, adalah upaya untuk menjadikan kita layak dan setara untuk dipanggil sebagai seorang inventor. Seluruh proses itu adalah proses belajar penting, bukan sekedar kompetisi untuk sebuah tepuk tangan yang tak pernah sampai 5 menit terdengar.

Postingan populer dari blog ini

Ilusi itu bernama 'Wisuda'

Saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang baru saja meraih gelar Sarjana. Kalian berhasil menaklukkan dan memenangkan diri sendiri. Kalian berhasil melalui proses yang panjang untuk hari besar itu. Percaya saja, berfoto mengenakan toga itu sungguh sangat menyenangkan.  Selamat (jalan) ya.
Tapi itu tidak akan lama. Saya ingat pernah berbicara di depan lebih dari 850 mahasiswa baru. Saya bertanya kepada mereka semua (mungkin mereka saat ini juga telah wisuda), pertanyaan yang cukup di jawab dengan mengangkat tangan. 'Silahkan angkat tangan kalian yang selama kuliah ingin mendapat IPK 4, menjadi pengusaha mahasiswa yang berhasil, menjadi delegasi pertukaran mahasiswa, menjadi wakil universitas dalam berbagai lomba, menerbitkan buku pertama dan lain-lain'. Tidak bisa terhitung secara tepat, tapi saya ingat 95% dari mereka angkat tangan. Menarik sekali. 
Lalu saya bertanya kembali kepada mereka, setiap tahun Universitas Bengkulu meluluskan lebih dari 3.000 mahasiswanya. Apakah …

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Kopdar Blogger Bengkulu 'Pertama'

Bukan Kopdarnya yang pertama, tetapi saya yang baru pertama mengikuti Kopdar ini. Saya tertawa-tawa saja, ini pertemuan ke 9,artinya sudah 9 bulan berdiri, dan saya baru hadir di kumpulnya blogger Bengkulu. Menyenangkan.

Saya tertawa-tawa sebab saya memandang sebuah rumah yang saya tinggakan. Dalam versi saya, artinya bisa muncul banyak versi, komunitas ini lahir bersamaan dengan datangnya kawan-kawan Kompasiana yang mengumpulkan Blogger Bengkulu. Tentu sebelumnya sudah ada keinginan untuk berkumpul para blogger di Bengkulu, lalu saat itu disepakati untuk di bentuk komunitas Blogger Bengkulu.

Pada periode ini, saya yang diminta mendesain logo komunitas ini, maka jadilah sebuah logo sederhana yang saya tak menyangkan tetap digunakan hingga saat ini. Ah, saya berharap bisa melakukan sedikit perbaikan desain logo itu, tapi sudah terlanjur dipakai bersama-sama.

Hari ini saya mengikuti kegiatan Kopdar bersama. Saya menyempatkan dengan sungguh-sungguh setelah sering gagal menghadiri undang…