Langsung ke konten utama

Berani Berinovasi





Berinovasi dengan ilmu tidak serumit yang kita kira. Ketika masih kuliah, saya selalu mengira bahwa yang disebut sebagai karya inovasi adalah sesuatu yang menjadi produk dari seperangkat kerumitan perangkat ilmiah dan teknologi. Semakin rumit pembuatannya, semakin lama pengerjaannya, semakin sering bergadangnya, berarti semakins keren pula inovasinya. Maka saya pun takut untuk memikirkan bahwa inovasi penelitian itu adalah sesuatu yang sederhana. Lebih tepat saya anggap sebagai sebuah utopia.

Hanya ketika saya mulai mengenalkan aktivitas menulis karya ilmiah, saya menemukan realitas bahwa metode tertulis untuk mengenalkan literasi iptek ke siswa tidak mungkin hanya dengan ceramah. Harus dinaikkan taraf pemikiran dan energi agar karya penelitian itu bermanfaat. Maka terpakailah teori yang sering saya ingat saat menjadi pengurus organisasi, bahwa saat kita berfikir tidak mampu disebakan kekurangan fasilitas, atau ketika kita merasa terlalu dini untuk berfikir maju, saat itu kita sedang duduk dengan angat yang selalu berada di atas kepala. Maka saya pun memutuskan untuk menggunakan apa yang ada agar menjadi sebuah karya inovasi yang sederhana dan bermanfaat.

Saya memberikan penekanan khusus disini, sebab sebagian kita sering terlalu fokus pada fasilitas dan bukan pada etos kerja dan semangat. Maka sering saya sampaikan bawa kekuatan semangat menularkan ilmu bermanfaat sellau dapat menjadi bagian dari cerita-cerita heroik di masa depan.

Saat inia dalah 2 tahun lebih dari usia saya mengelakan riset ke siswa. Saya senang, sebagian dari mereka akhirnya telah mempau berinovasi untuk mengembangkan gagasan-gagasan penting dan berdaya guna. Saya yakini mereka yang telah memulai aktivitas ini, akan menjadi sangat cemerlang kelak di perguruan tinggi.

Mari berani berinovasi.

Postingan populer dari blog ini

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…