Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2017

Kopdar Blogger Bengkulu 'Pertama'

Bukan Kopdarnya yang pertama, tetapi saya yang baru pertama mengikuti Kopdar ini. Saya tertawa-tawa saja, ini pertemuan ke 9,artinya sudah 9 bulan berdiri, dan saya baru hadir di kumpulnya blogger Bengkulu. Menyenangkan.

Saya tertawa-tawa sebab saya memandang sebuah rumah yang saya tinggakan. Dalam versi saya, artinya bisa muncul banyak versi, komunitas ini lahir bersamaan dengan datangnya kawan-kawan Kompasiana yang mengumpulkan Blogger Bengkulu. Tentu sebelumnya sudah ada keinginan untuk berkumpul para blogger di Bengkulu, lalu saat itu disepakati untuk di bentuk komunitas Blogger Bengkulu.

Pada periode ini, saya yang diminta mendesain logo komunitas ini, maka jadilah sebuah logo sederhana yang saya tak menyangkan tetap digunakan hingga saat ini. Ah, saya berharap bisa melakukan sedikit perbaikan desain logo itu, tapi sudah terlanjur dipakai bersama-sama.

Hari ini saya mengikuti kegiatan Kopdar bersama. Saya menyempatkan dengan sungguh-sungguh setelah sering gagal menghadiri undang…

Meraih Cinta

Ada yang selalu sulit di raih, ialah pengakuan. Habis waktu untuk bergerak, hanya untuk sebuah tepuk tangan. Hal itu diingkari, tapi tanpa sadar selalu di kejar, dan menjadi motivasi. Kenapa kita mau menjadi seorang pengusaha sukses di usia muda? Kenapa kita ingin menjadi ilmuan muda? adalah pertanyaan yang bermuara pada satu yang khas, meraih pengakuan.

Ada yang sulit di raih, menghabiskan lebih banyak waktu. Mengharuskan lebih banyak energi untuk menjaganya. Rapuh dan dapat hancur dengan sekali sentuh saja. Ialah mengejar cinta. Mengejar tingkat perasaan yang lebih rumit, menjalari rasa yang tidak hanya itu saja. Ia memanggil rindu, mengundang tawa, pula menjadi benci dan luka.

Meraih cinta boleh sama meraih pengakuan. Meraih cinta tapi tidak sama juga degan meraih pengakuan. Ia berdiri di sisi yang berbeda, tapi ia sering saling menyerupai dan membuat kita lupa.

Meraih pengakuan membuat kita ingin dianggap ada. Meraih cinta membuat kita ingin dianggap ada. Meraih pengakuan menjadi…

Kenali Samudera bernama 'Anak' itu...

Sebelumnya izinkan saya mengutip tulisan Mohammad Fauzil Adhim '30 Tahun Mendatang Anak Kita'. Berikut tulisannya: 
Jangan remehkan dakwah kepada anak-anak! Jika telah terikat hatinya dengan Islam, mereka akan mudah bersungguh-sungguh menetapi agama ini setelah dewasa. Jika engkau siapkan mereka untuk siap menghadapi kesulitan, maka kelak mereka tak mudah ambruk hanya karena langkah mereka terhalang oleh kendala-kendala yang menghadang. Tetapi jika engkau salah membekali, mereka akan menjadi beban bagi ummat ini di masa yang akan datang. Cemerlangnya otak sama sekali tidak memberi keuntungan jika hati telah beku dan kesediaan untuk berpayah-payah telah runtuh.
Maka, ketika engkau mengurusi anak-anak di sekolah, ingatlah sejenak. Tugas utamamu bukan sekedar mengajari mereka berhitung. Bukan! Engkau sedang berdakwah. Sedang mempersiapkan generasi yang akan mengurusi umat ini 30 tahun mendatang. Dan ini pekerjaan sangat serius. Pekerjaan yang memerlukan kesungguhan berusaha, niat …

Bahagia Tanpa Tujuan

Saya selalu berfikir, makna hidup akan dapat ditempuh jika kita memiliki tujuan. Hidup menjadi hidup sebab kita memiliki sesuatu untuk di raih. Ia laksana oase motivasi saat kita tengah lelah dan letih. Maka, dengan memiliki tujuan, saat itu pula manusia akan menemukan hidupnya.  Rupanya anggapan ini tak sama. Tidak semua manusia memiliki tujuan. Mereka mengalir begitu saja. Mengikuti irama hidup tanpa ambisi menjadi besar. Tanpa keinginan menggebu untuk menjadi sesuatu. 
Awalnya itu salah, menurut saya, Tapi mungkin juga tidak sepenuhnya salah. Bisa jadi anggapan saya inilah yang salah, dan mungkin inilah kesalahan hidup saya. Merancang tujuan untuk hidup. Menghabiskan banyak waktu dan pemikiran untuk sebuah tujuan. 
Ini benar. Ya, bisa jadi. Ini juga barangkali salah. Ya, bisa jadi. Hanya, saat saya melihat hidup mereka yang tidak terpaut tujuan. Mengair dengan begitu saja. Berjalan dengan alakadarnya. Tanpa ambisi menjadi hebat. Tanpa keinginan menjadi besar. Sepertinya, cukup mel…

Kesederhanaan Mimpi

Kita menghabiskan sangat banyak waktu untuk berambisi. Kita tunduk pada pola umum bahwa hidup adalah mengejar mimpi. Kita lalu menjadi begitu bergairah mengejar hidup. Dan tanpa sadar, kita sedang menggadaikan kehidupan kita untuk mimpi dan pengakuan itu. Menggali kuburan untuk hati yang terangkap palsu. 
Kita menghabiskan sangat banyak waktu untuk angan dan cita-cita. Kita terluka saat ia hilang. Kita menangis saat menjadi kalah dan gagal. Kita menderita saat menunggu berita kematian itu. Kita hidup saat membayangkan keindahannya. Kita terpesona membayangkan jalan hidup dalam ilusi. Kita lupa bahwa, mungkin hidup kita akan mengalir dengan cara berbeda. 
Kita kalah. Kita takut. Kita tersungkur. Kita menangis. 
Hidup kita, apakah hanya untuk ilusi bernama kesuksesan hidup itu saja?  Bahkan bila saya berkata demikian, saya tetap takut untuk menjadi gagal. Tidak cukup berani untuk menjadi mengalir. Atau penolakan bahwa harusnya hidup adalah tujuan. 
Hari ini, saya belajar kesederhanaan.…

Ilusi itu bernama 'Wisuda'

Saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang baru saja meraih gelar Sarjana. Kalian berhasil menaklukkan dan memenangkan diri sendiri. Kalian berhasil melalui proses yang panjang untuk hari besar itu. Percaya saja, berfoto mengenakan toga itu sungguh sangat menyenangkan.  Selamat (jalan) ya.
Tapi itu tidak akan lama. Saya ingat pernah berbicara di depan lebih dari 850 mahasiswa baru. Saya bertanya kepada mereka semua (mungkin mereka saat ini juga telah wisuda), pertanyaan yang cukup di jawab dengan mengangkat tangan. 'Silahkan angkat tangan kalian yang selama kuliah ingin mendapat IPK 4, menjadi pengusaha mahasiswa yang berhasil, menjadi delegasi pertukaran mahasiswa, menjadi wakil universitas dalam berbagai lomba, menerbitkan buku pertama dan lain-lain'. Tidak bisa terhitung secara tepat, tapi saya ingat 95% dari mereka angkat tangan. Menarik sekali. 
Lalu saya bertanya kembali kepada mereka, setiap tahun Universitas Bengkulu meluluskan lebih dari 3.000 mahasiswanya. Apakah …

Apa yang kamu lakukan setelah UN SMA?

Selamat 'menganggur' bagi teman-teman yang baru saja menyelesaikan kewajibannya mengikuti UN atau UNBK alias Ujian Nasional Berbasis Komputer. Kerja kalian sepanjang 3 tahun ini, hanya untuk 4 hari itu saja. Setelah itu, kalian akan menentukan apa saja yang akan kalian pilih. Kalian juga sudah berhak atas status kependudukan. Bila sebelum itu kalian tidak dianggap sebagai Penduduk Indonesia, pasca UN, kalian sudah dapat mengaku sebagai bagian dari Penduduk Indonesia (sebab umurnya kebanyakan sudah sampai 17 tahun, kan).

Percaya saja, hari pertama masa libur 'sangat panjang' itu akan kalian nikmati. Namun masuk minggu pertama, kalian akan sangat merindukan sekolah. Sebab menjadi 'pengangguran pemula', khususnya yang belum punya rencana, cukup berat. Biasanya kalian pagi-pagi sudah siap di sekolah, ramai bertemu rekan sahabat, bergurau bercanda, kemudian menjadi sepi. Kalian akan mulai belajar bahwa dunia tak lagi sama dengan sebelumnya.

Okay, kita lupakan hal-h…