Langsung ke konten utama

Ilusi itu bernama 'Wisuda'


Saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang baru saja meraih gelar Sarjana. Kalian berhasil menaklukkan dan memenangkan diri sendiri. Kalian berhasil melalui proses yang panjang untuk hari besar itu. Percaya saja, berfoto mengenakan toga itu sungguh sangat menyenangkan. 
Selamat (jalan) ya.

Tapi itu tidak akan lama. Saya ingat pernah berbicara di depan lebih dari 850 mahasiswa baru. Saya bertanya kepada mereka semua (mungkin mereka saat ini juga telah wisuda), pertanyaan yang cukup di jawab dengan mengangkat tangan. 'Silahkan angkat tangan kalian yang selama kuliah ingin mendapat IPK 4, menjadi pengusaha mahasiswa yang berhasil, menjadi delegasi pertukaran mahasiswa, menjadi wakil universitas dalam berbagai lomba, menerbitkan buku pertama dan lain-lain'. Tidak bisa terhitung secara tepat, tapi saya ingat 95% dari mereka angkat tangan. Menarik sekali. 

Lalu saya bertanya kembali kepada mereka, setiap tahun Universitas Bengkulu meluluskan lebih dari 3.000 mahasiswanya. Apakah semua yang lulus tersebut sudah berhasil meraih apa yang mereka impikan saat menjadi mahasiswa baru? Atau silahkan prediksi, dari kalian semua yang ada di sini, berapa banyak dari kalian yang menyelsaikan kuliah dengan kepuasan telah meraih mimpi dan cita-cita hebat itu? 

Hening. 

Begitulah yang selalu terjadi. Yang kita lihat adalah perayaan besar atas keberhasilannya menyelasikan masa studi. Semua tertawa dan bahagia. Hari pertama, senyum menggelora. Mimpi indah di depan mata. Minggu pertama, masih terasa begitu memesona. Bulan pertama, ada banyak hal yang mulai terasa, tapi tetap saja indah. Kemudian tahun pertama, kita akan tau bahwa kehidupan tidak hadir sesuai dengan apa yang kita bayangkan. 

Berapa banyak sarjana yang akhirnya hanya mengantri untuk bekerja alakadarnya? Menjaga warung milik orang tuanya? Ya bagus kalau warung itu ia yang buka, tapi lebih sering warung itu telah ada sebelum wisuda. Berapa banyak yang akhirnya putus ada, dan lebih pahit, kehilangan tujuan 'untuk apa dia hidup'. 

Saya tidak berkata saya telah berhasil. Sampai sekarang saya masih terus merasakan 'pahitnya ilusi bernama wisuda itu'. Kebebasan dan mimpi yang seperti menunggu di depan mata, adalah ilusi yang sangat jauh. Bahkan nyaris membentuk awan utopia. Rumit sekali. 

Sahabatku, yakinlah bahwa kita tidak akan mungkin menghindari proses pahit kehidupan pasca wisuda itu. Siapapun yang bersiap diri atau tanpa persiapan. Siapapun yang merasa punya bekal atau tidak tau harus membawa bekal. Siapapun yang merasa hebat dan jawara atau yang tidak merasakan apapun saat kuliah. Semuanya akan merasakan proses hidup yang sama. Sesuatu yang berbeda, dengan warna tidak hanya hitam dan putih. Itu adalah hal yang tak bisa di hindari. 

Meski demikian percaya saja, kita akan sanggup menghadapinya. Tugas kita bukan menghindar, tapi menghadapinya. Mencecap sari pati kehidupan. Mempertahankan diri untuk tetap bertahan dalam badai. Sesuatu yang dihadapi hampir semua manusia. 

Sahabatku, mari persiapkan diri kita. Bekal yang kita bawa dan siapkan sejak bangku kuliah, semoga menjadi bekal penting. Dan, saya selalu ingat, kita akan tetap hidup saat kita memiliki tujuan untuk di capai. Mimpi kita barangkali terlalu tinggi, tapi dengan mimpi itu, kita akan belajar, kehidupan adalah milik mereka yang berjuang, bukan milik mereka yang bergantung dan hidup dengan keapa adaannya. 

Selamat menyandang gelar sarjana. Nikmatilah ilusi bernama wisuda itu, sejenak saja. Kemudian berkemaslah dan persiapkan bekal untuk meraih kehdiupan yang berkah dan berharga. Untuk kita sendiri, untuk orang tua, sanak saudara, dan untuk bangsa kita. 

Congratz....

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Kopdar Blogger Bengkulu 'Pertama'

Bukan Kopdarnya yang pertama, tetapi saya yang baru pertama mengikuti Kopdar ini. Saya tertawa-tawa saja, ini pertemuan ke 9,artinya sudah 9 bulan berdiri, dan saya baru hadir di kumpulnya blogger Bengkulu. Menyenangkan.

Saya tertawa-tawa sebab saya memandang sebuah rumah yang saya tinggakan. Dalam versi saya, artinya bisa muncul banyak versi, komunitas ini lahir bersamaan dengan datangnya kawan-kawan Kompasiana yang mengumpulkan Blogger Bengkulu. Tentu sebelumnya sudah ada keinginan untuk berkumpul para blogger di Bengkulu, lalu saat itu disepakati untuk di bentuk komunitas Blogger Bengkulu.

Pada periode ini, saya yang diminta mendesain logo komunitas ini, maka jadilah sebuah logo sederhana yang saya tak menyangkan tetap digunakan hingga saat ini. Ah, saya berharap bisa melakukan sedikit perbaikan desain logo itu, tapi sudah terlanjur dipakai bersama-sama.

Hari ini saya mengikuti kegiatan Kopdar bersama. Saya menyempatkan dengan sungguh-sungguh setelah sering gagal menghadiri undang…