Langsung ke konten utama

Kesederhanaan Mimpi


Kita menghabiskan sangat banyak waktu untuk berambisi. Kita tunduk pada pola umum bahwa hidup adalah mengejar mimpi. Kita lalu menjadi begitu bergairah mengejar hidup. Dan tanpa sadar, kita sedang menggadaikan kehidupan kita untuk mimpi dan pengakuan itu. Menggali kuburan untuk hati yang terangkap palsu. 

Kita menghabiskan sangat banyak waktu untuk angan dan cita-cita. Kita terluka saat ia hilang. Kita menangis saat menjadi kalah dan gagal. Kita menderita saat menunggu berita kematian itu. Kita hidup saat membayangkan keindahannya. Kita terpesona membayangkan jalan hidup dalam ilusi. Kita lupa bahwa, mungkin hidup kita akan mengalir dengan cara berbeda. 

Kita kalah. Kita takut. Kita tersungkur. Kita menangis. 

Hidup kita, apakah hanya untuk ilusi bernama kesuksesan hidup itu saja? 
Bahkan bila saya berkata demikian, saya tetap takut untuk menjadi gagal. Tidak cukup berani untuk menjadi mengalir. Atau penolakan bahwa harusnya hidup adalah tujuan. 

Hari ini, saya belajar kesederhanaan. Hati kita tersandera mimpi tinggi. Jiwa kita habis diluluh api bernama ambisi. Kita lalu lupa hakikat takdir di setiap nafas kita. Hakikat jalan yang telah diaturNya.

Bukan berarti menyerah, kalah, lalu menghapus segalanya. Barangkali membuat mimpi itu menjadi sederhana, dengan kesederhanaan impian, dengan kesederhanaan cerita, adalah lega yang kita damba. 

Saya teringat sebuah kata. Mengejar bahagia itu ilusi. Mengejar berkah adalah sejati. Bahagia itu bagaikan racun yang menipu, ia sejatinya utopia. Menjalani hidup dengan berkah, menuju berkah, adalah sebaik cerita hidup. Ia tumbuh sederhana, tanpa menyita banyak waktu untuk berprasangka. 

Saya akan terus belajar. Besok, atau sedetik kemudian hati ini pun goyah kembali. Lalu meragu, lalu lupa. Kemudian terluka, lalu teringat, lalu bahagia. Lalu terlupa lagi, luka lagi, dan selalu akan seperti itu, seterusnya. 

Menjemput mimpi yang sederhana. Ya, mungkin cukup masuk akal untuk melebas baju besi bernama gengsi. Untuk melepas mahkota agung bernama ambisi. Menjadi petani yang emnanam padi, menebar pupuk, menikmati hijau dan tunas yang tumbuh. Merawat, memetik memberi, dan berarti. 

Postingan populer dari blog ini

Ilusi itu bernama 'Wisuda'

Saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang baru saja meraih gelar Sarjana. Kalian berhasil menaklukkan dan memenangkan diri sendiri. Kalian berhasil melalui proses yang panjang untuk hari besar itu. Percaya saja, berfoto mengenakan toga itu sungguh sangat menyenangkan.  Selamat (jalan) ya.
Tapi itu tidak akan lama. Saya ingat pernah berbicara di depan lebih dari 850 mahasiswa baru. Saya bertanya kepada mereka semua (mungkin mereka saat ini juga telah wisuda), pertanyaan yang cukup di jawab dengan mengangkat tangan. 'Silahkan angkat tangan kalian yang selama kuliah ingin mendapat IPK 4, menjadi pengusaha mahasiswa yang berhasil, menjadi delegasi pertukaran mahasiswa, menjadi wakil universitas dalam berbagai lomba, menerbitkan buku pertama dan lain-lain'. Tidak bisa terhitung secara tepat, tapi saya ingat 95% dari mereka angkat tangan. Menarik sekali. 
Lalu saya bertanya kembali kepada mereka, setiap tahun Universitas Bengkulu meluluskan lebih dari 3.000 mahasiswanya. Apakah …

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Kopdar Blogger Bengkulu 'Pertama'

Bukan Kopdarnya yang pertama, tetapi saya yang baru pertama mengikuti Kopdar ini. Saya tertawa-tawa saja, ini pertemuan ke 9,artinya sudah 9 bulan berdiri, dan saya baru hadir di kumpulnya blogger Bengkulu. Menyenangkan.

Saya tertawa-tawa sebab saya memandang sebuah rumah yang saya tinggakan. Dalam versi saya, artinya bisa muncul banyak versi, komunitas ini lahir bersamaan dengan datangnya kawan-kawan Kompasiana yang mengumpulkan Blogger Bengkulu. Tentu sebelumnya sudah ada keinginan untuk berkumpul para blogger di Bengkulu, lalu saat itu disepakati untuk di bentuk komunitas Blogger Bengkulu.

Pada periode ini, saya yang diminta mendesain logo komunitas ini, maka jadilah sebuah logo sederhana yang saya tak menyangkan tetap digunakan hingga saat ini. Ah, saya berharap bisa melakukan sedikit perbaikan desain logo itu, tapi sudah terlanjur dipakai bersama-sama.

Hari ini saya mengikuti kegiatan Kopdar bersama. Saya menyempatkan dengan sungguh-sungguh setelah sering gagal menghadiri undang…