Langsung ke konten utama

Apakah saya memiih jalan Seni? atau sekedar Hobi?


Adalah hari ke 3 saya di kegiatan Pembekalan Seniman Mengajar 2017. Saya bergabung sebagau tim yang didaulat mengenalkan seni Media ke masyarakat. Saya akan ditempatkan di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau selama 20 hari. 

Yang lalu menjadikan pertanyaan bagi saya adalah, sebenarnya apa yang ingin saya raih. Apakah saya akan hanya sekedar menyelasaikan tugas karena 'terlanjur' terpilih, atau ada sesuatu yang ingin saya raih dalam jalur ini. 

Saya belum menemukan jawabannya. Diantara berbagai jalur yang pernah saya pilih, kondisi memutuskan seni ini adalah yang membuat saya berfikir lebih dalam. 

Awalnya saya tidak terlalu paham. Yang saya bayangkan, seni media hanya membuat video lalu di tonton. Atau mengambil gambar dan di pajang. Sesuatu yang sederhana, sebagaimana saya melakukan selama ini dengan kesederhanaan pula. Tanpa ambisi menjadi sesuatu yang lebih. Sekedar menghabiskan waktu, atau sedikit berkarya dengan alakadarnya. Tidak seserius saat saya ingin menyelesaikan sebuah buku. 

Sampai hari ke 2 saya masih menganggap demikian. Tetapi, malam hari ke 2 itu saya menemukan sesuatu yang membuat saya berfikir tentang bidang seni ini. Sesuatu yang menghadirkan tantangan berbeda. Kolaborasi warna dan pesan jiwa yang dirangkum dalam visual, gerak, suara. Perspektif saya berubah, ada sesuatu yang segar. 


Kami memiliki pendamping, namanya Bapak Krisna Murti. Saya tidak mengenal beliau sebelumnya. Beliau kerap bercerita pengalaman bliau di kancah persenian dunia. Sangat bersemangat. Tetapi, saya tetap tidak mengenal beliau. Saya bahkan tidak tau seperti apa karya beliau. Barangkali karena hati saya masih separuh, belum mengarah, sekedarnya saja.

Malamnya saya berbincang dengan rekan sekamar saya. Bliau bercerita tentang karya Bapak Krisna Murti yang di unggah di YouTube. Sebelumnya saya mencoba mencari nama bliau, tetapi yang muncul seorang polisi presenter televisi. Agak kesulitan. 

Tetapi malam itu, saya diberi kata kunci untuk mencari karya bliau, Video Art Krisna Murti. Dan muncullah berbagai unggahan karya seninya. Saya buka satu persatu. dan taukah kesan pertama saya,'Keren Banget'. Ya, saya menangkap sebuah bahasa universal yang khas. Ia dipahami dengan perspektif jiwa dan rasa. Kolaborasi warna, suara, gerak dalam layar, dan banyak lainnya. Itu keren sekali. Dan entah mengapa, saya berkata pada diri saya, sepertinya saya juga punya peluang untuk bisa berkarya seperti itu, ada cinta yang sedang tumbuh.

Oleh karena itu, sepanjang hari setalah itu, saya menjadi berfikir. Apakah akan menjadikannya sebagai jalur profesional saya, mengejar  mimpi menjadi seorag seniman, atau menjadikan ini sekedar pengetahuan saja. 

Ini dilema, saya menemukan fakta bahwa saya jadi menyukai bidang seni ini, dan jauh dalam diri saya keinginan untuk menjadi seorang seniman. Tetapi di sudut lain, saya pun juga befikir, keinginan lainnya yang lebih dahulu saya masuki. Menjadi seorang peneliti, menjadi seorang penulis buku. Itu yang selama ini saya kejar. 

Bisakan saya menjadi seorang ilmuwan yang meramu ide dan gagasan dengan ilmu alam dan teknologi? Kemudian saya tetap menjadi seorang yang menulis buku untuk anak-anak, merangkum puisi mengharu jiwa, bercerita tentang mimpi dalam kata-kata? Juga saya tetap menjadi seorang seniman yang unggul di seni media?

Bisakan saya menjadi seorang peneliti, penulis dan seniman sekaligus?

Apakah saya akan memilih jalan seni? 
Saya belum tau soal ini.

Postingan populer dari blog ini

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…