Langsung ke konten utama

Saya Seniman ? Serius ?


Tiba-tiba, saya bergabung dengan para seniman. Bila hanya seorang seniman saja, barangkali ini bukan sesuatu yang khusus. Tapi kenyataannya momen bertemu para seniman ini adalah momen yang khusus. Sangat mewah sekali. Lebih menarik, sebab saya pun 'terpaksa harus' mengaku-aku sebagai seniman pula. Ini yang rumit. 

Ceritanya, saya pernah mencoba mendaftar program Seniman Mengajar yang difasilitasi oleh Direktorat Kesenian, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Saya mendaftar di tenggat terakhir. Itu pun, ikhtiarnya sekedar coba-coba saja, siapa tau lulus kan. Sebab bagi yang terpilih, akan mengabdi mengajar seni di daerah 3T, yang saya pilih adalah Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Sederhananya, saya mencari gambar di internet dan saya temukan pemandangan pantai yang indah. Saya berharap menemukan sebuah tiket kesana. Sangat sederhana. 

Lalu saya juga tidak begitu berambisi. Saya mengakui bahwa saya bukan seorang seniman. Meski di salah satu opsi saya menukan ada bidang seni ke 5 yang saya ikuti, dan itu sepertinya menarik dan masih bisa saya ikuti, tetap saja saya tidak begitu berambisi. 

Hari yang sama, saya juga mendaftar Program Residensi Penulis 2017. Nah ini yang sebenarnya saya targetkan. Bila terpilih, saya akan dikirim ke Finlandia untuk menulis buku di negara dengan pendidikan terbaik di dunia itu. Saya berambisi sekali untuk sekmen ini. 

Maka, setelah menati lama, tiba masa saya menuggu peguman. Tentu saya sangat tidak sabar, khsuusnya Residensi Penulis. Saya sungguh ingin menulis sebuah karya buku dalam bahasa inggris, dan jalan-jalan ke luar negeri. 

Suatu pagi, saya mendapatkan email. Dari Direktorat Kesenian. Disana dijelaskan bahwa saya lulus dan terpilih menjadi salah satu peserta Seniman Mengajar. Saya tertawa-tawa saja, paling pendaftarnya sedikit. Untuk periode pendaftaran kurang dari satu bulan, pasti sangat sedikit yang mendaftar. Atau bila tidak, kuota tersedia sangat banyak, maka memilih saya adalah sebuah keterpaksaan karena ketiadaan peserta. 

Saya ikuti terus, hingga saya menemukan fakta menarik. Pendaftar program itu sebanyak 667 seniman se Indonesia. Lalu 237 diantaranya lulus tahap administrasi dan karya, lalu terpilih 15 seniman di tahap final untuk dikirimkan ke 3 daerah. Cadangannya sebanyak 14 orang. Ini serius? Saya benar-benar lulus. 

Saya masih tertawa-tawa. Entah, ini luapan kebahagiaan, atau entahlah. Sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Masuk ke dunia bernama seni. Rumit sekali. Saya kira saya termasuk yang 'gagal' memiliki identitas dan 'potongan' seorang seniman. Lebih lagi saat saya tau debut 14 seniman lain yang terpilih. Saya angkat tangan. Mereka benar-benar seniman. Mereka hadir dari komunitas seni yang besar, penggiat seni berbakat, pemenang berbagai kompetisi,delegasi seniman ke berbagai tempat, dan banyak lainnya. Sementara saya? Sejak kapan sayajadi seniman?

Maka seperti yang terlihat di foto, saya ikuti program ini. Saya senang sekali. Menemukan warna baru. Sebuah warna yang tidak saya bayangkan ada dengan level sebaik ini. Bagi saya ini level yang terlalu mewah. Apalagi untuk seorang amatir yang kini menyandang gelar seniman. 

Saya menikmati proses ini. Menyenangkan belajar banyak hal, kan. 


Seniman Mengajar Angkatan 1 Tahun 2017

Postingan populer dari blog ini

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…