Langsung ke konten utama

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.

Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.

Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembalianya pun menjadi Rp. 3.000. Saya pernah sekali protes, tapi justru saya yang dihardik. Menyebalkan bukan.

Okelah bukan soal nominal, terapi wajar lah saya pun menggugat. Seperti biaya parkir di pantai. Kalau seandainya dengan membayar parkir membuat pantai terawat dan baik, maka bagi saya itu sah. Nah masalahnya sepanjang saya dan seluruh khalayak membayarkan parkir kunjungan ke pantai, kondisi pantai tetap saja kumuh dan kotor. Lalu parkirnya untuk apa?

Saya pernah mengunjungi Kepulauan Natuna, misalnya. Disana kita akan menemukan banyak sekali wisata alam eksotis. Danlebih menarik karena objek wisata yang banyak dan eksotis, serta bersih terawat itu, semuanya BEBAS PARKIR. Sangat berbeda dengan wisata di Bengkulu yang sedikit-sedikit parkir atau bayar retribusi,  yang entah inisiatif aiapa.  Ini yang membuat saya malas berkunjung ke objek wisata alam di Bengkulu. Penuh dengan biaya parkir ajaib dan aneh.

Saya kira, hanya saya yang tidak menyukai parkir di Bengkulu,  rupanya ada lebih banyak yang juga tidak sepakat dengan parkir. Saya beri contoh di gambar di bawah ini ya.





Gambar di ambil di Jalan Meranti Raya Kota Bengkulu. Jalannya lebih bagus dan lebar setelah diperbesar beberapa bulan lalu. Area kanan kiri jalan memang adalah warung-warung masyarakat, dan setelah jalan diperbesar, warung tersebut memang lebih ramai.
Yang menarik adalah, beberapa hari setelah jalan selesai di perlebar dan telah digunakan dengan baik, mulai ditemukan orang-orang dengan rompi hijau. Iya, mereka adalah tukang parkir. Dan saya jadi enggan akan berkunjung dan belanja di daerah itu. Kadang saya meletakkan sepeda motor di samping jalan hanya untuk mengambil berkas fotocopy. Dan saya kena dampak parkir karena saya meletakkan sepeda motor di samping jalan.

Barangkali juga keberadaan petugas parkir juga mempengaruhi jumlah pembeli. Maka tidak lama setelah menjamur petugas parkir, saya menemukan banyak tulisan yang menghimbau pembeli untuk parkir di teras toko/warung. Saya bahkan menemukan warung yang merenovasi warungnya untuk diadakan teras parkir gratis.

Fenomena ini menarik. Banyak sekali cerita. Tapi cukup dapat kita simpulkan sederhana, kita menolak parkir.

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…